Java Jazz, Musik, dan Devisa

ACID JAZZ: Incognito, dedengkot acid jazz dari Inggris, tampil pada hari pertama dan hari terakhir Java Jazz Festival 2008 yang digelar selama tiga hari (7-9/3) di JCC Jakarta.  Photo by Asep BS

ANTUSIASME penikmat musik tidak kendur sampai hari terakhir Java Jazz Festival, semalam.  Dipuncaki dengan pentas utama Kenneth “Babyface” Edmonds, The Manhattan Transfer, dan Incognito, pentas skala dunia tersebut mampu menyedot lebih dari 20.000 penonton hingga akhir pergelarannya selama tiga hari berturut-turut sejak Jumat (7/3).
Antrean penonton yang sangat panjang senantiasa terlihat di depan pintu-pintu masuk special show. Bahkan beberapa penonton terpaksa makan di dalam antrean karena takut kehilangan posisi terdepan bila harus makan di stan makanan terlebih dahulu. Tidak sedikit dari penonton  membawa anak-anak mereka yang masih balita di dalam kereta dorong.
Jika dibandingkan dengan Jak Jazz yang lebih menekankan apresiasi, Java Jazz terlihat lebih meriah karena menonjolkan pada faktor industri ketimbang seni semata. Tengok saja, di setiap lorong bangunan Jakarta Convention Center, sekitar 19 panggung bersanding rapat dengan puluhan bahkan seratusan stan-stan pameran yang menawarkan berbagai produk mulai dari kerajinan UKM hingga industri mobil.
Pilihan artisnya pun lebih variatif dan justru kurang menghadirkan para kampiun jazz standar. Musik fusion, pop, R&B, dan acid jazz lebih banyak mengetengah. Ini barangkali dimaksudkan untuk dapat lebih banyak penonton sehingga dampak komersial dan industri diharapkan mampu terpenuhi.
Merchandise resmi berupa kaos, mug, tas, dan topi eksklusif yang ditawarkan di stan-stan sponsor, laris manis diserbu penonton. Sementara di luar arena, para pedagang kecil tidak mau ketinggalan berjualan merchandise tak resmi dengan kualitas dan harga yang tentu saja berbeda.
Isu Lingkungan
Berkaitan dengan isu pemanasan global yang gencar dikampanyekan dalam acara tersebut, ada beberapa musisi asing enggan datang ke Indonesia karena alasan lingkungan hidup. Carlos Santana konon tidak bersedia tampil karena alasan yang mungkin kita anggap sepele selama ini. Gitaris gaek tersebut menilai Indonesia tidak ramah terhadap lingkungan dan banyak melakukan perusakan hutan.
Terlepas dari keberatan beberapa artis, tanpa Carlos Santana dan Mat Bianco yang batal hadir di hari pertama, ajang Java Jazz Festival 2008 berlangsung meriah. Rupanya penonton lebih menikmati sajian yang ringan dan easy listening ketimbang nomor-nomor jazz standar. Terbukti aksi panggung Babyface lebih banyak dijubeli penonton ketimbang pentas Idang Rasjidi atau Bubi Chen, semalam.
Peter F Gontha selaku penggagas acara berjanji akan lebih “menghiasi” Java Jazz Festival dengan warna-warna komersial lainnya. “Di Singapura ada pameran teknologi dan elektronik tahunan yang sangat besar. Saya akan memindahkannya ke Jakarta pada Java Jazz Festival tahun depan,” tandasnya.
Bahkan, lanjut dia, Rektor Berkeley School of Music, California, AS, yang menyempatkan diri hadir karena penasaran, menyatakan ingin mengusung institusinya ke dalam event tersebut pada tahun-tahun mendatang. Mungking bisa berbentuk stan klinik atau workshop musik.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang tampak dalam pentas hari kedua dan hari terakhir semalam menyatakan, antusiasme penonton membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia sangat aman dan kondusif untuk tujuan wisata. “Menurut catatan panitia, ada 350 musisi asing yang tampil. Mereka tentu tidak datang sendiri tapi membawa rombongan dan penonton dari luar negeri. Ini sangat menggemberikan bagi pemasukan devisa negara.”

16 thoughts on “Java Jazz, Musik, dan Devisa

  1. stey says:

    huhuhu..java jazznya g mo kompromi ma jadwalku, coba akhir maret ini..pasti saya sdh didepan panggung nunggu manhattan transfer. btw@teguh:ga ono kie..tukang tiket’e jek ga entuk supplay tiket..hehehe..

  2. kian says:

    wuah kemaren aku kesana lohhhh…tapi didepannya saja alias ke islamic book fairnya dink ama ke pameran tanamannya sajah…

    nda sempet beli tiket tuk ke javajazz *halah..padahal ra duwe dit dink*

  3. Ahmed says:

    Wiiii, ada The Manhattan Transfer…
    Jadi ingat lagu yg liriknya ini :

    Let’s hang on to what we’ve got
    Don’t let go, girl; we’ve got a lot
    Got a lot of love between us
    Hang on, hang on, hang on, to what we got
    Dooh doot! Dooh doot! Dooh doot!

    ha Kalu Incognito. Lagu dgn lirik ini favorit saya :
    Here and now, still somehow
    Still a friend of mine, oh you’re still a friend of mine
    Still a friend of mine, you’re still a friend of mine
    Still a friend of mine, oh you’re still a friend of mine
    Oh :-“

  4. [H]Yudee says:

    iya nih …. pdhl udah aku rencanain dari tahun kemarin loh …. pas kemarin malah ga ada duit… hiks hiks hiks …

    *nungguin Java Jazz tahun depan aja dweh …

  5. sapi says:

    hmmm….java jazz nor jak jazz, lum pernah nonton.
    Selamat deh buat jazz-lover, militansinya hebat juga. Meski belakangan bagi beberapa orang datang ke festival semacam ini lebih ke arah gaya hidup daripada benar2 menikmati musik. Ah sudahlah….

    *err…btw ada yg punya drawn 2 u-jafrosax gak? boleh dihibahkan ke sayah…kekeke*

  6. Asri says:

    Mas Asep, reportasenya bagus bgt!

    Btw tiga hari penuh aku juga beredar di java jazz.. sayang belum tahu wajah panjenengan, jadi melewatkan kesempatan kopdar dadakan yah?
    Aku malah ketemunya sama mas Dahono, adiknya mas Wiwien yang wartawan Kompas, pas nonton Manhattan Transfer.

    Sudah lama pengen banget nonton Java Jazz, jadi kubela-belain jauh-jauh dari Aceh, beli tiket terusan early bird dari websitenya tapi hilang di tempat parkir JCC, jadi di hari kedua & ketiga terpaksa beli tiket harian. Trus sempat juga rada berantem sama security gara-gara ngga dibolehin masuk ke shownya Dian PP. Lara lapa tak lakoni lah pokoknya.. [-(

    Di blogku aku juga berbagi cerita dari java jazz, kalo mas lihat angle foto2nya, mungkin kita pernah atau sering papasan di dekat stage saat ambil foto. Sayang belum kenal ya? 🙂

  7. M.Ali.Hardityan.F says:

    ya..event seperti ini sangat menarik sekali untuk saya..saya juga cukup suga musik jazz..enak banget didengerin sambil ngopi..hhe..Tahun depan beli tiket ah buat Java Jazz…:d:d

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *