Hijau Semarangku Bersama Dulux

Pak Wicaksono Sharing Tentang Biopori

“….Alam dan seisinya merupakan titipan Illahi, untuk itu kita sebagai manusia wajib menjaganya….”

Penggalan kalimat diatas bisa kita jadikan modal dasar untuk lebih menyayagi alam dan mengelola apa yang ada di sekitar kita dengan baik. Minggu pagi ini ada kegiatan di Kecamatan Candisari Semarang yang berkaitan dengan pengelolaan limbah atau sampah rumah tangga yang ada didalam rumah dan sekitarnya.

Tentunya kita sudah tahu akibat dari pembuangan sampah sembarangan mulai dari tersumbatnya saluran air hingga terjadinya banjir. Untuk itu dalam kesempatan kali ini  Dulux mengadakan workshop  dalam rangka menghijaukan kota Semarang dengan menukarkan 1 kaleng bekas cat produk Dulux atau Catylac dari berbagai macam ukuran kemudian ditukar dengan 1 buah tanaman.

Seperti yg dikatakan oleh Archernar Trimulia (ketua penyelenggara kegiatan), bahwa dalam kegiatan kali ini diharapkan bisa memenuhi target hingga mencapai 1.700 kaleng. Workshop ini sendiri bekerja sama dengan BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kota Semarang.

Beberapa rangkaian acara workshop adalah penyerahan secara simbolis dari Dulux kepada Kecamatan Candisari berupa alat Bor untuk membuat lubang Biopori, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang pengelolaan sampah oleh Ibu Ratna perwakilan dari BLH kota Semarang.

Dalam pemaparannya Ibu Ratna menjelaskan secara rinci tentang penanganan masalah sampah, baik sampah dengan skala kecil, menengah atau besar, bahkan dijelaskan juga macam-macam sampah diantaranya :

– Sampah Anorganik yang tidak dapat dijual : baterai bekas, bola lampu bekas, sampah medis, dll.
– Sampah Anorganik yang dapat dijual seperti : kertas, tas plastik, botol plastik, kayu dll.
– Sampah Organik seperti : sisa makanan, sisa buah/sayur, daun, pemotongan rumput dll.

Upaya pengelolaan sampah ini bertujuan untuk mengurangi sampah yg dimulai dari sampah rumah tangga. Upaya pengurangan sampah dapat dilakukan dengan cara pembatasan timbulan sampah, pemanfaatan kembali sampah yang ada dan melakukan daur ulang sampah.  Sedangkan untuk penanganan sampah bisa dilakukan dengan memilih, mengumpulkan, mengangkut, mengolah dan memprosesnya sebagai langkah terakhir. Untuk jenis-jenis sampah bisa dipilih kemudian dipisahkan sesuai jenisnya.

Peserta Praktek Pembuatan Lubang Biopori

Selain penjelasan tentang penanganan soal sampah di jelaskan juga tentang pembuatan kompos dengan metode Takakura. Metode ini merupakan hasil pemanfaatan sampah rumah tangga yang diolah dan akan menghasilkan kompos.

Metode Takakura ini ternyata tidak asing bagi para peserta yang hadir pada acara workshop kali ini. Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta workshop dari kelurahan Jomblang telah menggunakan metode Takakura untuk mengelola sampah rumah tangga sudah cukup lama.

Selesai pemaparan dari Ibu Ratna acara dilanjutkan dengan sesi ke 2 yaitu pemaparan tentang Lubang Resapan Biopori (LBR) oleh Ir. Wicaksono dari BLH kota Semarang. LRB atau Lubang Resapan Biopori adalah ruang atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh makhluk hidup, lubang resapan lubang vertikal ke dalam tanah yang berguna untuk meresapkan air dan merubah sampah organik menjadi kompos.

 

Menurut Ir. Wicaksono ada beberapa manfaat LRB diantaranya memperbaiki ekosistem tanah, dapat meresapkan air, mencegah banjir, mengatasi kekeringan, mengurangi emisi gas rumah kaca dan lain sebagainya. Untuk pembuatan LRB harus menentukan lokasi yang tepat karena sistem ini tidak bisa dilakukan di dataran tanah sembarangan, adapun lokasi yang bisa dilakukan LRB adalah dasar saluran, daerah tergenang, batas tanaman dan paving blok. Tehnik pembuatan Lubang Resapan biopori adalah :

– Membuat alur air atau temukan corong talang atau temukan daerah tergenang
– Membuat lubang Biopori dengan menggunakan alat bor
– Perkuat mulut lubang dan pasang tutupnya
– Isi sampah organik
– dan uji resapan air

Jumlah LRB yang disarankan adalah untuk setiap lahan dengan luas 100m² dapat dibuat LRB sebanyak 30 lubang dengan jarak antar lubang sebesar 0,5 – 1 m, untuk lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm, maka volume tampungan sebesar 7,8 L sampah organik yang dapat diisi setiap 2-3 hari sekali.

Untuk memelihara LRB bisa dilakukan dengan  cara memasukkan sampah organik kedalamnya. Sampah organik dari kebun yang berupa daun atau ranting dapat dimanfaatkan sebagai kompos setelah kurang lebih 4 bulan.

Menurut Ir. Wicaksono ada wilayah-wilayah tertentu di kota Semarang yang sesuai Biopori yaitu daerah Recharger Area, bukan daerah cekungan air tanah, bukan daerah lereng yang potensial longsor, bukan daerah muka air tanah tinggi dan bukan tanah lempung.

Untuk mempraktekkan pembuatan LRB ini kadang sering keliru, kekeliruan ini dapat dijumpai pada letak lubang yang bukan daerah laluan air hujan, adanya kedalaman kurang dari 80 cm, posisi tutup lebih tinggi dari air tanah, jarak antar Biopori yang terlalu dekat dan kadang lubang yang tidak diisi sampah.

Selain itu ada juga masalah-masalah dalam pembuatan LRB yaitu pembuatan lubang atas yang terlalu lebar, banyak dijumpainya kerikil atau batu pada kedalaman awal, uji coba air yang tidak dapat langsung meresap dan seringnya lubang tertutup tanah setelah hujan pertama. Dengan diadakanya workhsop LRB ini diharapkan masyarakat lebih paham tentang pembuatan LRB serta manfaat dari LRB itu sendiri.

 

Pembuatan Lubang Biopori

Setelah berbagai rangkain acara pemaparan selesai di berikan, acara dilanjutkan dengan praktek pembuatan lubang Biopori di halaman Kecamatan Candisari. Disini para peserta tampak bersemangat untuk mencoba mempraktekkan membuat lubang dengan menggunakan alat bor Biopori yang disediakan oleh Dulux sebagai pelaksana kegiatan workshop. Dijelaskan juga oleh Ir. Wicaksono cara dan posisi membuat lubang yang benar.

Dari rangkaian acara workshop yang telah dilalui akhirnya workshop dalam rangka menghijaukan Semarang bersama Dulux telah selesai, para peserta dihidangi makan siang bersama dan pembagian souvenir dari Dulux.

Semoga dengan adanya workshop yang berkaitan dengan lingkungan hidup ini bisa menyadarkan masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam menghijaukan alam khususnya di kota Semarang. Selain itu pemanfaatan sampah rumah tangga yang dilakukan oleh warga tentunya bisa mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir.

10 thoughts on “Hijau Semarangku Bersama Dulux

  1. mizan says:

    Aku punya keranjang Takakura, tapi tidak medium kompos-nya, bisa didapatkan di mana ya?

    Kalau bor untuk biopori bisa didapatkan di mana? Atau ada yang gratisan? 😀

  2. jiban says:

    klo kranjang takakura siap pake bisa hubungi ibu2 yg di kelurahan jomblang, mereka sudah lama dibidang itu, klo alatnya itu beli hargane lumayan mahal, tp gak semahal hp cina kok 😀

  3. setiadi dharsono says:

    “Hijau semarangku” wah kalau didaerah lain mau seperti semarang ,sudah pasti dunia ini akan bebas polusi alangkah bahagianya disetiap sudut pandang selalu bersih dan hijau

  4. cara pada blog says:

    salam lestari,,sebagai warga semarang ,,dekat rawa pening,,ketika pergi ke kota semarang sendiri,,saya merasa gk nyaman ,,,panas, bau,,,,,gimana yach,,membangkitkan kesadaran pentingnya SERASI..

Berikan komentarmu...