Karena Loenpia Lebih Enak Dimakan Bersama!

Menata Ulang Kota Semarang

11

Kota Semarang yang terus berkembang kalau dibiarkan tanpa kontrol dan penegakan hukum / aturan yang tegas akan menjadi kota besar yang liar dan tidak ramah buat warganya bahkan bagi para tamu yang berkunjung ke Semarang.
Mumpung belum terlanjur seperti Jakarta yang sukses bikin stress siapapun yang lagi di sana, kita butuh master plan atau cetak biru yang baru yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi terbaru saat ini.

Hal-hal yang mestinya masuk di cetak biru tsb :

1. Penataan Pemukiman :

(rusun murah / danchi di Iwata-Shi, Prefektur Tokyo)

Perbanyak Rumah Susun Sewa (Rusunawa) yang layak tapi murah meriah di pusat kota. Selama ini warga berpenghasilan rendah yang bekerja di pusat kota justru tinggal di pinggiran kota bahkan ada yang tinggal di wilayah Kendal, Demak, Purwodadi dan Ungaran. Mereka adalah penyumbang terbesar kemacetan di jalan raya, baik lewat angkot, bus dan sepeda motor.
Andai mereka tinggal di rusunawa dalam kota, berangkat kerja maupun bersekolah cukup jalan kaki atau bersepeda. Nggak perlu bea transport. Ngirit. Jalanan nggak macet, polusi minim. Bisa bantu pemerintah hemat subsidi BBM juga loh,..

(danchi di Funabashi, Prefektur Chiba)

Bagi warga berpenghasilan tinggi bisa tinggal di rusunawa yang dibangun swasta. Biasanya sih biar kelihatan keren disebut Apartemen. Atau sekalian saja beli Mansion atau Kondominium. Masalahnya, masyarakat kita belum terbiasa tinggal di hunian vertikal seperti rusunawa. Tapi ini hanya karena belum terbiasa saja koq.. Toh nantinya juga akan menjadi sesuatu yang lumrah.

Nah, agar warga penghuni pusat kota betah dan nggak stress, taman kota diperbanyak. Setiap taman juga harus dilengkapi toilet yang layak dan memadai. PKL diberi tempat yang layak, nggak jualan di trotoar. Trotoar yang berfungsi sebagai city walk juga harus cukup lebar dan nyaman buat pejalan kaki serta pengendara sepeda. Pasar tradisional juga dibikin yang rapi dan bersih, misalnya dalam bentuk arcade seperti Pasar Baru di Jakarta. Jadi selain untuk tempat belanja juga bisa buat obat stress. Asyik nggak tuh?..

Memang tidak mudah untuk merubah perilaku khas bangsa kita yang usil, demen ngrusak, cuek soal kebersihan dll. Tapi saya yakin banget pasti bisa dirubah menjadi baik dengan kerja sama dan kerja keras pemkot dan warga sendiri. Memang sih, sosialisasinya butuh dana besar, waktu, tenaga, pikiran, tapi buat masa depan yang lebih baik kenapa tidak?.. Optimis sajalah..

(jalan di kanan-kiri sungai di Tadotshu-Cho, Pref.Kagawa)

Terus, kanan-kiri sungai dibikin jalan yang juga berfungsi sebagai jalur inspeksi sungai. Semua rumah wajib menghadap sungai. Biar sungkan kalau mau buang sampah atau buang hajat ke sungai..hi..hi.. Kalau nekat juga ya kelewatan deh.. mending didenda yang tinggi. Ben kapok..

Rumah baru yang akan dibangun di pusat kota wajib bertingkat, minimal 2 lantai. Maksudnya, biar ada halaman buat penghijauan. Kalau perlu, pajak (PBB) diberi diskon jika bisa menyediakan lahan penghijauan 30% atau lebih dari total luas tanah tempat rumah tsb dibangun. Untuk pengembang perumahan, sampai sekian kilometer dari pusat kota, kalau mau bikin perumahan ya harus vertikal alias rumah susun.

Masalahnya, membangun gedung tinggi di Semarang masih terkendala adanya Bandara A.Yani yang dekat dengan pusat kota. Gimana kalau kita pindahkan ke Demak saja ?…

Menurut saya sih, pengembangan kota bukan berarti harus ada rumah / bangunan di setiap jengkal tanah di kota ini. Tapi, memaksimalkan potensi yang ada di tiap wilayah agar terjadi pemerataan ekonomi. Jadi kalau potensinya di bidang pertanian dan perkebunan seperti Gunungpati karena tanahnya subur, ya jangan dibuat menjadi kawasan perumahan apalagi industri. Makmurkan petani di situ , agar profesi petani tetap dihargai dan diminati generasi mudanya.
Ini juga penting buat menjaga ketahanan pangan kota kita serta ketersediaan air tanah yang dibutuhkan semua warga kota juga areal pertanian dan perkebunan di situ. Lha wong sekarang saja pembangunan perumahan di situ sudah gila-gilaan..

Musti distop tuh… Kalau perlu, bikin program hutan rakyat di kawasan hulu kota Semarang.

Tapi kalau pun dibikin area wisata di situ ya harus yang berwawasan lingkungan / agro wisata. Misalnya pemancingan, adventure park dan sejenisnya yang juga menyediakan komoditas lokal seperti sayur mayur, buah-buahan dan kerajinan tangan.

2. Antisipasi Banjir dan Rob

Langkah yang ditempuh Pemerintah khususnya Pemkot Semarang dengan program Integrated Water Resources and Flood Management yang didanai duit pinjaman dari pemerintah Jepang patut diapresiasi tinggi. Hanya menurut saya di beberapa lokasi rawan banjir-rob juga harus dibikin selokan bawah tanah / bawah jalan raya yang besar seperti di film-film Hollywood itu loh,..

Kalau banjir bisa diatasi tapi rob-nya tetap ngeyel, mungkin juga perlu dipikirkan untuk membangun bendungan lepas pantai yang membentang dari Kendal sampai Demak,…
Untuk mengembalikan biaya pembangunannya, bagian atas bendungan dijadikan jalan Tol saja. Tentu saja pembangunannya harus terintegrasi dengan pelabuhan baru yang dibangun di sebelah Utara bendungan.

(pelabuhan Port Island, Kobe)

(lingkungan di kawasan pusat Port Island, Kobe)

Investor pembangunan pelabuhan tsb bisa panen duit dari penyewaan properti seperti rusunawa, pertokoan / trade center, pergudangan, perkantoran, hotel, terminal peti kemas, terminal fery, convention center, pengoperasian rumah sakit dll. Wah,…mimpi kali ya?…

Mengatasi banjir dan rob juga perlu melibatkan masyarakat. Menyadarkan masyarakat biar tidak membuang sampah sembarangan, tentu bukan pekerjaan ringan. Begitu pun melarang / membatasi sumur pompa yang jadi salah satu penyebab turunnya permukaan tanah, karena berarti PDAM wajib menyediakan air yang cukup dan mengalir 24 jam sehari kepada semua warga di seluruh wilayah kota Semarang.

3. Pengelolaan Sampah

Sudah saatnya sampah dikelola secara professional dengan melibatkan swasta. Bukan hanya sampah dipilah-pilah dulu sebelum dibuang, tapi diberlakukan pula pembuangan sampah berjadual sesuai jenis sampah dan wilayah serta menggunakan teknologi terbaru di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

(sampah dipilah-pilah)

(tempat pengumpulan sampah dapur)

(waste incinerator di Katsushika-Tokyo)

Sampah di TPA dibakar dengan suhu tinggi menggunakan waste incinerator untuk meminimalisir racun dioxin, bau sampah direduksi hingga level “0”, panas yang dihasilkan pun bisa dipakai sebagai pembangkit listrik yang bisa dijual ke PLN. Residu pembakaran juga bisa dijadikan produk-produk yang bermanfaat.

4. Transportasi Massal

Jangan menunggu sampai kemacetan di Kota Semarang separah Jakarta. Makanya perlu segera dibangun jaringan kereta api dalam kota atau jarak pendek yang menghubungkan Semarang dengan Kendal, Demak, Kudus, Jepara dan Purwodadi. Jaringan kereta api bisa berupa monorel, KRL, Subway atau kombinasi ketiganya. Pemerintah melalui PT KAI bisa melibatkan swasta untuk mempercepat pembangunan jaringan tsb.

(jaringan kereta api di Tokyo)

(kereta KRL Yamanote di Tokyo)

Terus, tiap stasiun kereta api harus terintegrasi dengan Terminal / Halte Bus. Stasiun kereta api juga difungsikan sebagai pusat ekonomi dan kegiatan masyarakat setempat. Artinya, di sekitar stasiun tsb didirikan rusunawa, kantor-kantor instansi pemerintah, pasar tradisional, bank, puskesmas / rumah sakit, sekolah, taman / alun-alun dll. Ini juga buat meminimalisir transportasi warga dengan kendaraan pribadi.

(terminal bus di depan stasiun Shibuya-Tokyo)

(rumah susun di sekitar stasiun Yako, Kawasaki-Tokyo)

Angkot hanya beroperasi di wilayah yang tidak terlayani bus kota. Istilahnya sebagai feeder (pengumpan) bagi bus kota. Bus kota akan membawa penumpang ke stasiun kereta api. Biar tertib, aman dan nyaman, maka seluruh armada bus kota harus beroperasi berdasarkan jadual waktu yang ditentukan dan hanya berhenti di halte bus kota aja. Seperti Busway atau Trans Semarang itu loh..

Ini dulu saja deh usulnya…
Silahkan yang mau menambahkan, biar seru….

 

Image :

sjkk.or.jp, bunsei.kanpaku.jp, masfiq, shibuyamap.net, portal.nifty.com, japan-i.net, panoramio.com, f.hatena.ne.jp, oddjob.shotsharing.com, mylifesexplosion.blogspot.com

 

 

 

11 Comments
  1. mizan says

    Rusun di Pekunden laris manis karena dekat dengan pusat kota. Rusunawa di Kaligawe sampai sekarang masih kurang maksimal penggunaannya.
    Ide untuk memanfaatkan dam lepas pantai sebagai jalan tol Kudus – Demak keren tuh. Bisa sekalian untuk akses ke pelabuhan yang baru.

  2. Cordiaz says

    Keinginan saya, bangunan bersejarah di Semarang tetap ada dan lestari berdampingan dengan bangunan-bangunan baru…

  3. masfiq says

    @mizan & cordiaz : berarti rusun di pusat kota perlu ditambah tuh.. rusun kaligawe hrs dilihat dulu di mana kendalanya, mgkn perlu perubahan konsep mengikuti kondisi lingkungan skrg.
    bangunan bersejarah banyak yg mangkrak nyaris hancur. kalo cuman ngandalin gerakan komunitas2 yg ada sekarang ya nggak cukup. perlu campur tangan pemkot, pemprov bahkan pemerintah pusat serta investor swasta juga. kita yang di luar itu setidaknya nggak corat-coret/ ngusak bangunan bersejarah, juga mau promosikan ke orang lain lewat mulut ke mulut atau internet..
    tengkiyu komentar bro berdua…. 🙂

  4. Niff says

    Ide-idenya keren mas…

  5. masfiq says

    @bang munev: matur tengkyu, mas bos…

  6. Hayyik says

    Two thumbs up! selain penambahan moda transportasi jarak pendek seperti KRL, kenyamanan moda transportasi yang sudah umum seperti bus kota juga harus diperhatikan. Penampilan bus kota yang terlihat ‘acakadul’ berpengaruh terhadap mindset masyarakat.Jika hal ini bisa diperbaiki, maka masyarakat yang sebelumnya gengsi naik transportasi umum menjadi senang karena nyaman dan bersih.

  7. Danang Widiatmoko says

    Seharusnya pembangunan gedung-gedung pencakar langit di Semarang (terutama Semarang Bawah) juga memperhatikan kontur tanah Semarang. Perlu di ketahui saja tanah di wilayah Semarang Bawah semakin amblas (land subsidence) dengan berbagai faktor, terutama faktor beban bangunan di atasnya.
    Seharusnya pemerintah memperhatikan Semarang Atas yang minim pembangunan, dengan mempelajari profil tanah, tidak akan tidak mungkin dapat di bangun skyscraper.
    Sehingga bisa dikatakan pembangunan bisa merata, dan tidak hanya berpusat pada Semarang Bawah.

    Kalau kita perhatikan, Semarang mirip dengan Hong Kong, ada bagian bawah (HongKong CBD / Semarang Bawah) dan bagian atas (Victoria Peak/Bukit Gombel – Semarang Atas).

    Semoga pemerintah dapat lebih bijak dalam pembangunan Kota Semarang, jangan asal2an bikin kota metropolis, tapi pelajari dulu Sebab dan Akibatnya, ingat kontur tanah di Semarang tidak seperti di Jakarta, Surabaya.

  8. wahyu says

    wah … kapan yo semarang modele begitu… i miss u berat semarang… hihihihihi…

  9. masfiq says

    @hayyik n @danang: setuju, mas bro sekalian…
    @wahyu : lg merantau ya ..?

  10. Mkhuda says

    Wah.. kalo perbandingannya dengan jepang emang jauh pak ! 😀

  11. masfiq says

    @mkhuda: emang masih jauh, tapi asal ada kemauan kita bisa kayak jepang koq… buktinya, banjir kanal barat udah mirip bgt dgn sungai2 yg ada di kota2 di jepang. td pagi saya lihat ada banyak perahu hias yang melintas di situ. cakep deh… cuman sayangnya, udah banyak coretan2 hasil kreasi tangan2 jahil…. 🙁

Leave A Reply

Your email address will not be published.