Karena Loenpia Lebih Enak Dimakan Bersama!

Temu Nasional Kewirausahaan Sosial

6
pembicara sesi 1

Diawali dengan suguhan musik tradisional, bertempat di Hotel Dafam Semarang, Temu Nasional Kewirausahaan Nasional berlangsung. Bukan sebuah acara biasa, karena yang hadir adalah ‘orang-orang gila’, kata Pak Rhenald Kasali ketika memberikan sambutan. Ya.. ‘orang-orang gila’ tetapi mampu berbuat sesuatu bagi masyarakat sekitarnya dengan usaha yang dilakukannnya. Minggu, 9 September 2012, bukan hari spesial, tetapi bagiku begitu spesial karena bisa bertemu orang-orang hebat di ajang Temu Nasional Kewirausahaan Sosial yang digagas AKSI (Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia). Memberikan sambutan juga, wakil gubernur Jawa Tengah, Ibu Rustriningsih. Dalam sambutannya, Ibu Rustriningsih menceritakan kegiatannya keliling propinsi Jawa Tengah untuk mendata warga miskin yang tidak mampu berobat diberikan kesempatan untuk berobat gratis pada program yang diadakan Ibu Rustriningsih.

Ibu Irma Suryani

 

Suatu kehormatan bagi saya yang mewakili dari loenpia.net mendapatkan undangan teman-teman di Jaringan Rumah Usaha (JRU). Di awal-awal acara, saya sempat bertanya-tanya, apa itu Kewirausahaan sosial? Setelah mendengarkan penuturan orang-orang hebat yang tampil, saya jadi sedikit mengerti apa itu  Kewirausahaan Sosial. Ingat kata-kata Pak Rhenald Kasali, bangsa ini menghasilkan bangsa penghafal. Dari pada cuma dihafal artinya saja, mending saya kasih arti nyata atau praktek dari Kewirausahaan Sosial itu, sehingga Anda juga mengerti. Berikut beberapa kisahnya:

Ibu Irma Suryani
Beliau adalah seorang yang mempunyai keterbatasan fisik tetapi mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang yang senasib dengan dirinya. Dengan kain bekas limbah pabrik tekstil dia menciptakan keset yang menembus pasar internasional, dengan kesetnya itu pula dia mendapatkan penghargaan sebagai wirausahawan muda teladan tingkat nasional.

Bapak Bahrudin
Pendiri lembaga pendidikan Qaryah Thayiybah, sebuah sekolah alternatif bagi masyarakat di sekitarnya. Sekolah tersebut ia dirikan karena keprihatinannya atas biaya sekolah yang semakin mencekik, apalagi masyarakat di sekitarnya rata-rata hidupnya pas-pasan. Bertempat di dua ruangan rumahnya, dia dibantu sembilan guru lulusan IAIN mulai mengoperasikan sekolah yang kurikulumnya mengadopsi sekolah reguler. Walaupun hanya sekolah terbuka, bukan berarti tidak ada prestasi, dalam lomba cerdas cermat tingkat kota salatiga, sekolah tersebut mampu mengimbangi penguasaan materi siswa sekolah reguler. Sekolah ini juga pernah menjadi wakil Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat propinsi, mewakili Salatiga dalam konvensi lingkungan hidup pemuda asia pasifik di Surabaya, dan masih banyak lagi prestasi yang diperoleh sekolah terbuka ini.

Farha Ciciek
Seorang Ibu yang mengorbankan kehidupannya yang mapan di Jakarta hanya untuk mengembangkan daerah asalnya di Ledukombo Jember. Walaupun streotip yang melekat pada warga sekitarnya adalah susah diatur, egois, sulit diajak maju, kepala batu, sok pintar, dan label-label negatif lain, yang kalau orang biasa mungkin sudah menyerah untuk mengubah sifatnya tersebut. Tetapi bagi Ibu Ciciek, itu bukanlah halangan yang untuk dihindari tapi rintangan yang harus dicari jalan keluarnya. Jalannya yaitu melalui anak-anak. Melalui permainan egrang, Ibu Ciciek berharap, anak-anak tersebut bisa bekerjasama, bersahabat, bergembira, belajar, berkarya, saling menghargai, sehingga mereka mereka bisa memajukan kampung mereka. Lewat permainan egrang, ledokombo akhirnya bisa menjadi go internasional.

Masih banyak lagi orang-orang luar biasa yang tampil pada acara ini. Seperti Sugeng Siswoyudono dengan 1000 kaki palsu gratis untuk mereka yang tidak mampu, Masril Koto, seseorang yang SD saja tidak lulus tetapi mampu menggerakkan ekonomi rakyat Sumatra Barat dengan lembaga keuangan mikro yang dikelolanya, Sumadi, dikenal dengan manajer jamban karena program pengadaan jamban bagi rumah yang belum memiliki jamban, kemudian Gus Hafidz dengan sekolah bukan cuma berstandar internasional tetapi standar SABDA (Standar Dunia dan Akhirat). Dan masih banyak lagi orang-oang luar biasa yang tampil pada acara ini, tetapi tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

pembicara sesi 3

Itulah contoh kewirausahaan sosial. Silahkan simpulkan sendiri pengertian kewirausahaan sosial itu apa. Oya, setiap peserta mendapatkan tas yang berisi sebuah majalah marketing dan buku agenda cantik. Tetapi yang paling berharga adalah kisah-kisah inspiratif dari orang-orang hebat yang tampil, bisa dijadikan teladan bagi kita untuk memulai move on.

mas Prie unjuk gigi

 

Untuk sesi acara ketiga tidak dapat saya tulis di sini karena pada sesi ini berubah menjadi semacam stand up comedy-nya mas Prie GS yang berbau 21+, bagaimana tidak, semua peserta dibuat terpingkal-pingkal karenanya. Sesi selanjutnya bincang-bincang santai membahas ide, gagasan, dan saran untuk AKSI selanjutnya. Tak terasa waktu sudah malam, sebenarnya masih ingin melanjutkan sampai sesi terakhir, tetapi badan capek banget, akhirnya dengan berat hati meningggalkan acara. Semoga tahun dapat kesempatan lagi untuk ikut acara ini lagi.

 

foto by mbak vie

6 Comments
  1. mizan says

    Acarane seru banget

  2. Ceritaeka says

    Bangsa penghafal ya? *menunduk sedih*
    Ayoo semoga dgn acara ini wirausaha jadi bergeliat

  3. sanji0ne says

    @ceritaeka : kata pak rhenald kasali, selain bangsa penghafal, kita juga bangsa penumpang, hanya menumpang kemana driver ingin berkendara

  4. Niff says

    acaranya benar-benar menggugah dan menghibur… 🙂

Leave A Reply

Your email address will not be published.