Konsep Kluster dalam Pariwisata

Kesempatan Bincang Kompas, minggu lalu mengangkat topik tentang memperkenalkan pariwisata Karanganyar untuk menarik investasi pariwisata. Bincang Kompas merupakan, kegiatan rutin Biro Kompas Jawa Tengah, hampir dua tahunan ini. Kali ini diadakan di Hotel Lor In Solo (tepatnya Karanganyar). Dihadiri langsung oleh Bupati Karanganyar dan institusi pariwisata terkait, acara berlangsung meriah dan hangat dipandu oleh moderator Sonya Sinombor, wartawan Kompas. Acara menjadi bertambah seru ketika sesi tanya jawab pertama dibuka dan diberikan kesepatan pada Bambang Sunaryo (Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta) memaparkan pandanganya sebagai bahan diskusi seputar masalah ini.

Beliau menyampaikan bahwa Karanganyar sebagai wilayah tidak terpisahkan dengan Solo, tidak dapat menarik investasi sendirian, tanpa bekerjasama dengan wilayah sekitar. Investor pariwisata akan datang bila berbondong-bondong wisatawan datang ke suatu wilayah destinasi pariwisata. Destinasi wisata adalah kawasan dengan batasan fisik geografis tertentu yang didalamnya terdadapat komponen produk wisata, layanan dan unsur pendukung lainnya sehingga membentuk sistem dan jaringan funsional yang terintegrasi dan sinergis dalam menciptakan kunjungan maupun membentuk totalitas pengalaman bagi wisatawan. Menurut Cooper, Fletcher, Gilbert Shepherd and Wanhill (1998), komponen produk wisata adalah:

  • Atraksi, alam, budaya, artificial, event dan sebagainya
  • Amenita, fasilitas penunjang wisata, akomodasi, rumah makan, retail, toko cidera mata, fasilitas penukaran uang, biro perjalanan, pusat informasi wisata san sebagainya
  • Aksesibilitas, dukungan sistem transportasi meliputi rute atau jalur transfortasi, fasitlitas terminal bandara, pelabuhan dan moda transfortasi lainnya
  • Layanan pendukung, keterseidaan fasilitas pendukung yang digunakan oleh wisatawan seperti bank, telekomunikasi, pos, rumah sakit, dan sebagainya
  • Aktifitas, ragam kegiatan yang dapat diikuti/dilakukan wisatan selama di lokasi/destinasi dan terakhir,
  • Paket perjalanan wisata, paket-paket perjalanan wisata yang ditawarkan dan dikelola oleh biro perjalan wisata.

Wah, teoritik sekaleeee… 🙂 Tidak apa, demi menambah ilmu, oke selanjutnya, destinasi wisata dapat dikembangkan dengan tiga pendekatan yaitu,

  • berorientasi pasar, persepsi wisatawan mengenai destinasi wisata menjad faktor pertimbangan yang sangat penting dalam penetapan suatu objek atau kawasan sebagau suatu destinasi pariwisata
  • tidak mengenal batas wilayah, pariwisata merupakan kegiatan yang tidak mengenal batas ruang dan wilayah. Pengembangan pariwisata harus diarahkan secara terpadu lintas wilayah untuk membangun daya tarik kolektif yang kuat sebagai suatu destinasi yang kompetitif dalam skala nasional, regional bahkan internasional
  • kluster, konsentrasi geografis dari komponen usha dan lembaga yang bergerak dalam suatu bidang khusus atau tertentu yang menjadi produk utama (core product). Hmm… abstrak? Berikut ini ilustrasi kluster destinasi wisata, untuk mempermudah Anda semua.

Ilustrasi Kluster

Kluster destinasi wisata di pulau jawa, masih menurut Bambang Sunaryo, terbagi pada kluster Krakatau, kluster Jakarta, kluster Bandung, kluster Borobudur, kluster Solo dan kluster Bromo. Kluster destinasi wisata Solo menurut persepsi wisatawan adalah kota Solo, dengan komponennya Kota Solo, Kraton Mangkunegaran, Sangiran, Cetho, Sukuh, Tawangmangu dan Sarangan. Beberapa lokasi destinasi wisata kluster Solo terletak di kabupaten Karanganyar, seperti terlihat ilustrasi dibawah ini.

Kluster Solo

Duh, sayangnya Semarang tidak termasuk dalam salah satu kluster destinasi wisata di Pulau Jawa. Jika mengacu pendapat Cooper dkk, diatas, kita tidak perlu kuatir, Kota Semarang dan wilayah sekitarnya dapat dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata, karena memiliki komponen produk-produk wisata seperti di sini.

18 thoughts on “Konsep Kluster dalam Pariwisata

  1. BunSal says:

    Wah, padahal Semarang cucok asli buat dijadiin destinasi wisata [spakat g Yut?loh, koq ke Yuti :P]

    Mm, tapi memang agak berat memaketkannya dengan cluster yg lain…

    Wadu, komenku kok smakin memperberat yak…
    Tapi, bisa jadi peer yg bagus buat kita2 yg mengaku Semarangan…[gi ngimpi nawarin paket wisata yg bagus…especially dari Semarang…]

  2. masfiq says:

    Lha Pemkot Semarang bukannya mempersiapkan dan memoles obyek wisata maupun komponen pendukungnya dengan baik lebih dulu, tapi malah sibuk bikin slogan (the beauty of asia?). Udah gitu masih keluar duit lagi.. (buat hadiah lomba bikin logo-nya).
    Sorry kalo ada yang kupingnya panas, tapi ini emang fakta. Harus diomongin apa adanya biar ada perhatian dari pihak terkait. Khan juga demi kemajuan kota Semarang tercinta. Yo opo ora? Oraaa….. 😀

    masfiq

    http://www.AsianNetBisnis.blogspot.com

  3. eyrawati says:

    😕 Yaiyalah, Secara Karanganyar adalah bagian dari Solo, masak mau cari untung sendiri.APA KATA DUNIA???

  4. wirda says:

    kamu kok sok tau banget sih mas??????
    emangnya situ udah propesor pariwisata, konsep aja masih raba2, apalagi kalo disuruh implementasiin RIPPDA.
    emangnya kamu tau banget kondisi fisik pariwisata Indonesia.
    monyet juga bisa baca kalo daerah jawa tengah bukan ga mungkin dibikin kluster unggulan pariwista Indonesia, yang penting asal di Indonesia tuh manusia yang sok tau pariwisata kayak kamu tuh diilangin sama sekali…..
    kalo marah kita adu ilmu di STP bandung saya tunggu di kantin deket jurusan manajemen kepariwisataan kalo ga tanyain aja nama saya wirda fitriana tilaar jurusan mkp program studi manajemen destinasi pariwisata semester-3 ( tinggal di asrama enhaii )no hp: 08569087843….
    kita liat nanti, saya penasaran aja mau liat muka orang goblok yg bisa mempersepsikan pariwisata secara teoritis tapi isinya tai kambing semua, HHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…………..

  5. yogie says:

    @wirda : hmmm… kalo aku baca dari komentar Anda, isinya kok celaan semua ya?
    Trus saran dari Anda mana? kok gak dipaparkan sama sekali?
    Satu-satunya saran cuma tulisan : “manusia yang sok tau pariwisata kayak kamu tuh diilangin sama sekali”

    Hmmm.. itu sih bukan saran..
    ayo dong.. apa sarannya..
    jangan cuma bisa nyela aja, tapi gak mampu kasih usulan..
    jangan cuma bisa kasih opini tanpa bisa kasih saran..
    apalagi kasih komentar dengan anonymous
    dan jangan cuma Omong Doang 🙂

    Ngapain juga adu ilmu? situ dukun ya?
    bwahahahhahah….

  6. cordiaz says:

    To: Wirda Fitriana Tilaar atau siapapun Anda (anonym sih), tulisan ini saya dedikasikan untuk bapak Bambang Sunaryo dari STP Sahid Surakarta. Sy kagum dengan pemikiran beliau untuk memajukan pariwisata khususkan Solo dan sekitarnya. Sayangnya pemikiran ini belum dapat diimplementasikan karena beberapa kendala. Ada baiknya Anda membantu menyelesaikan masalah dengan mengirimkan opini dan solusi. Apalagi Anda, mengaku mahasiswi Semester 3 NHI, Bandung. Alih-alih cuman menyampaikan kata-kata kasar yang justru menjatuhkan harga diri Anda sendiri.
    Marah? Tentu tidak, saya terbiasa bediskusi dengan berbagai tipe dan sikap orang. Namun saya kecewa, miris, mahasiswi seperti Anda tidak punya tata krama, sopan santun. Lha trus mo dibawa kemana pariwisata indonesia, jika calon pekerja dibidang ini sikapnya seperti Anda… Ingat lho bentar lagi VIY 2008… Ayo perbaiki sikap Anda mari kita berdiskusi dan cari solusi… :”>

  7. totorz says:

    Pembangunan pariwisata telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan wilayah atau negara, bahkan saat ini sangat sulit membayangkan pembangunan suatu wilayah tanpa menghadirkan pariwisata didalamnya, mengingat pariwisata menghadirkan image (baik image bersifat country image, regional image ataupun product image) yang sangat diperlukan untuk mendorong tumbuhnya sektor-sektor lain. Bahkan tidak dapat dipungkiri lagi sektor pariwisata di beberapa daerah telah menjadi lokomotif pembangunan suatu wilayah. Selain itu, maraknya implementasi kebijakan pembangunan wilayah yang mengusung tema TTI (Tourism, Trade and Investment) semakin memperkuat peran pariwisata dalam pembagunan suatu wilayah. Salah satu faktor yang mendorong keadaan tersebut adalah adanya fenomena global yang positif mengenai pariwisata di seluruh dunia ini, dimana WTO (World Tourism Organization) dalam WTO’s Tourism 2020 Vision memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan internasional di seluruh dunia akan mencapai 1 milyar pada tahun 2010 dan 1,5 milyar pada tahun 2020. Bahkan secara total, tingkat pertumbuhan wisatawan diperkiranakn mencapai 4,1 % per tahun.
    itu adalah gambaran tentang pariwisata global, tinggal bagaimana, kita dapat memanfaatkan kueh yang begitu luar biasa ini, pariwisata itu tidak bisa berjalan sendiri, harus didukung semua sektor, dunia usaha dan masyarakat. semarang secara nasional sdh menjadi destinasi yang digabung dengan demak jepara dan karimunjawa menjadi satu cluster. jadi gak usah pesimis, tinggal bagaimana kiprah kita untuk memberikan kontribusi terhadap dunia pariwisata khususnya semarang

Berikan komentarmu...