Taman Diponegoro atau Raadplein

Taman Diponegoro ini dibangun menyusul lahirnya Kota Praja Semarang pada tahun 1906. Pada waktu itu, Dewan Pengelola Kota menilai bahwa kota Semarang bawah sudah mulai kumuh sehingga diputuskan untuk membuka daerah Candi Baru, terutama untuk permukiman. Maka pada tahun 1925, kawasan ini mulai dibangun. Taman Diponegoro merupakan pusat dari kawasan permukiman Candi Baru, dahulu taman ini disebut Raadsplein.

Menurut rencana pengembangan kawasan Candi yang dilakukan oleh Thomas Karsten pada tahun 1916, maka diperkirakan bahwa keberadaan raadsplein mulai tahun 1916. Konsep yang diterapkan Thomas Karsten dalam merancang kawasan ini adalah Garden City, yang menguatkan perancangan raadsplein, yaitu menurut Thomas Karsten bangunan-bangunan kota yang membentuk public urban space sebagai pokok atau central permasalahan. Perancangan Raadsplein dengan perancangan Burgermeesterwoning di sebelah utaranya, membentuk aksis yang kuat bertujuan untuk mencerminkan kekuasaan walikota pada waktu itu. Dan juga merupakan penyelesaian kondisi topografi tanah yang miring.

Taman ini berbentuk empat persegipanjang dengan ukuran 50 x 15 meter, dengan bagian tengah terdapat plaza berbentuk bulat dengan axis utara-selatan. Kondisi taman ini masih tetap dipertahankan dengan pohon-pohon yang tertata untuk menambah kesejukan lingkungan dengan memanfaatkan kondisi tofografis alami. Pola taman ini dipengaruhi oleh konsep taman-taman vista di Perancis pada massa Renaisance.Taman Diponegoro dirancang dengan sumbu menghadap ke rumah dinas Kasdam Diponegoro atau Rumah Dinas Walikota Semarang (dulu).

Kawasan Taman Diponegoro juga mengalami perubahan, sesuai dengan tuntutan pembangunan. Hal ini ditandai dengan bangunan-bangunan baru, seperti pertokoan di bagian selatan taman, gereja dan susteran di bagian timur taman, juga Puri Wedari di bagian barat taman.

Taman Diponegoro merupakan simpul pusat kawasan permukiman Candi Baru yang berada di Semarang bagian atas dan merupakan simpul pertemuan wilayah administrasi kelurahan Wonotingal, Tegalsari, Gajahmungkur, dan Lempongsari yang termasuk di bawah administrasi Kecamatan Gajahmungkur dan Candisari. Taman Diponegoro juga sebagai simpul penghubung antara Semarang bawah dan atas, yaitu menghubungkan simpul Simpang Lima yang melewati jalan Diponegoro dan simpul Tugu Muda yang melewati jalan S. Parman. Lokasinya yang terletak di tengah kawasan permukiman menjadi titik pertemuan enam jalan dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi.

Taman ini merupakan pertemuan dari jalan Sultan Agung, jalan S. Parman, jalan Diponegoro, jalan Kawi, jalan Argopuro dan jalan Telomoyo. Pola traffic yang ada di kawasan Taman Diponegoro merupakan pola yang mendistribusikan arah traffic ke jalur-jalur jalan utama tersebut. Pendistribusian ini tampak jelas dengan adanya arus traffic yang mengelilingi Taman Diponegoro kemudian menyebar ke jalur-jalur jalan sekitarnya.

Jalan-jalan di atas dibedakan dalam 2 kelompok berdasarkan tingkat kelebaran jalan, yaitu:

1. Rute Mayor (jaringan jalan utama)
Yaitu jaringan jalan yang membelah di antara kawasan yang fungsinya merupakan rute pencapaian dari luar ke kawasan, yang termasuk di dalamnya yaitu jalur Jl. S. Parman, Jl. Sultan Agung dan Jl. Diponegoro. Lebar jalan ini: 12m dengan trotoar di kiri dan kanan jalan dengan lebar: 1.5m.

2. Rute Minor (jaringan jalan pendukung)
Yaitu jaringan jalan yang menghubungkan antara rute mayor dengan bagian dalam jalan lingkungan kawasan dengan skala yang lebih kecil, yang termasuk dalam rute ini antara lain: Jl. Telomoyo, Jl. Kawi dan Jl. Argopuro. Lebar jalan ini sekitar 5-7m, dapat dilalui kendaraan roda empat dengan material jalan aspal dan perkerasan beton

Karena keenam jalan yang bersumbu di Taman Diponegoro merupakan jalur dua arah, maka pencapaian ke kawasan Taman Diponegoro ini melalui keenam jalan tersebut, yang kemudian pada titik temunya membentuk suatu arus lingkar memutari kawasan. (Sukawi)

18 thoughts on “Taman Diponegoro atau Raadplein

  1. Hendra says:

    Semarang emang keren. Candi Baru emang bergaya dan bergengsi. Jangan biarkan taman tersebut tidak terawat.

  2. susilo m says:

    Semoga dari kota banjir dan rob ini akan tampil generasi “Toegoe Moeda” dan Lawang Sewoe” yang dikenal secara mendunia. Bukan hanya pemakai produk dunia tetapi benar2 yang menhasilkan produk tingkat dunia.

    Nah silahkan gunakan google map untuk melihat kota Semarang dari citra satelit, dan cari lokasi tempat tinggal kalian masing2. Pelan2 dan bandingkan nanti kalau kalian sudah lama meninggalkan kota ini atau usia diatas 50 tahunan.

    Kalau masa kecil “SM” sekitar 50 tahun yang lampau disekitar sungai yang saling tindih dan berputar airnya, dulu tempat “SM” hampir mati tenggelam bersama almarhum kakak, saat usia baru 4 th-an. Tahun 60-an airnya masih bersih dan tentunya tidak seperti sekarang. Nah dimana itu silahkan tebak dan cari, kalau kalian benar2 wong Semarang.

    Salam,

    SM

  3. ivan says:

    maaf sebelumnya saya numpang ngisi comment,
    kalau boleh tau pengambilan foto taman diponegoro ini kapan???
    soal na kalau dibanding dengan terakhir saya tinggal disana ini sudah sangat berubah,
    dan saya setuju dengan saran mas atau bang hendra,
    klw tidak dirawat jadi gimana gitu,
    terima kasih dan maaf sekali lagi kalau saya terlalu lancang

  4. Sugeng Raharjo says:

    Semarang adalah kota yang penduduknya paling bahagia se Indonesia. Menurut sebuah survey sech…Someday I will be there..enjoy semarang with peace and love

  5. tito sumarwoto says:

    Wah indah banget, tambah bagus kalau misalnya diberi foto malam hari yang ada lampu2 sekitarnya…..

  6. Mytha is in d house says:

    Taman Diponegoro…

    Sayang selama 21 taon hidup di kota Semarang hanya keinginan yang kuat untuk mampir ke tempat ini, realisasinya sangat kurang..

    InsyaAllah ak bakal maen qtmpt yg bnr2 pny nilai ini..
    CINTA SEMARANG..

  7. uki says:

    ayo…jln” pgi or olrg ditmn ni…
    sblm smua orng aktvts…
    nikmati seju’ny udr n mnnti hngtny mentri pagi
    slm dr tegalsari

  8. Tedjo says:

    Taman Diponegoro dibuat terlalu tinggi, dan jalan yang mengelilingi terlalu padat…rasanya tidak ada/ jarang sekali yang memanfaatkan taman ini untuk istirahat

  9. il Zey says:

    Broer..
    kok ga ada ulasan tentang taman tabanas?
    ini temoat eksotis banget..
    semarang selalu eksotis di malam hari.
    sepanjang jalan tol lihat ‘kunang-kunang’..
    what a beauty..

Berikan komentarmu...