Jazz beneath the Full Moon

Spyro Gyra

Julio Fernandez (gitar) dan Jay Beckenstein (sax) duel hebat saat Spyro Gyra tampil di malam kedua. Dibidik pake kamera Lumix DMC FZ50 Leica lense dengan kecepatan 1/25 detik, bukaan rana 4.0, dan ISO 200. (photo by asep bs)

SEJAK Jumat (23/11) hingga Minggu (25/11), aku berkesempatan meliput dan melihat dari dekat penyelenggaraan Jak Jazz 2007 di Istora Senayan Jakarta, mulai dari sibuknya mempersiapkan panggung sampai wawancara langsung dengan para personel band yang terlibat.

Berbeda dari Java Jazz, kemasan Jak Jazz dibikin lebih simpel dan hampir tidak ada jarak antara pemain dan penonton, terutama di panggung Ireng Maulana Jazz Lounge (indoor). Ibaratnya, kalau mau iseng njawil pemainnya pun bisa.

Perbandingan lainnya, Java Jazz lebih glamor dengan genre musik yang lebih bervariasi, tak hanya jazz. Sementara Jak Jazz lebih klasik dan akrab serta diupayakan hanya fokus pada jazz. Salah satu personel Kool & the Gang — aku lupa namanya — sempat minta tolong aku mengecek CD file milik dia ketika dia tahu aku bawa laptop.

Di sana ada Satoru Shionoya, Jay Beckenstein (Spyro Gyra), Tetsuo Sakurai (Casiopea / Jimsaku) — tapi doi tampil bareng Bill Sharpe and the Geography–, dan Bill Sharpe (Shakatak), dan Kool & the Gang . Sementara dari dalam negeri ada Ireng Maulana and Friends, Dwiki Dharmawan, dan tentu saja si mungil dahsyat Tompi bareng The Groovology-nya.

Cuaca yang sangat mendukung (baca: tidak hujan) hingga hari terakhir (Minggu, 25/11) membuat acara semakin meriah, pasalnya mayoritas pentas digelar di panggung outdoor dan tidak ada shelter buat penonton. Saking cerahnya langit, sosok sumringah bulan purnama tampak jelas seolah jazzed up by the gigs. Ada lima panggung outdoor dan dua panggung indoor. Bintang utama seperti Spyro Gyro, dan Kool & the Gang tampil di panggung utama indoor.

Saking banyaknya pentas yang digelar secara simultan, fokus aku tujukan pada Tetsuo Sakurai dalam The Geography, Spyro Gyra, dan Tompi. Paling tidak sampai Sabtu malam hujan tidak turun, entah Minggu malamnya karena posting ini ditulis Sabtu malam, beberapa menit sebelum Spyro Gyra tampil. Padahal Rabu malam dan beberapa hari sebelumnya, Jakarta diguyur hujan sangat lebat.

15 thoughts on “Jazz beneath the Full Moon

  1. duqiee says:

    Sayangnya q g’ suka jazzz ya!!!q lebih suka lagu kayak example marilyn manson gt…so sory ya!!he2x

  2. Avante says:

    Loh… loh… loh…

    ono Cah Loenpia nonton Jak Jazz toh?
    koq ra ngabar-ngabari ning milis [-(… aku wingi bingung arep teko, soale ra ono konco eh
    (sing iso tuku tiket dewe );)

  3. Yogie says:

    Waahhhh…… nonton Jak Jazz ya om?
    aku dari dulu pengen nonton tapi ga pernah kesampean.. hmm.. tapi cukup terobati dengan liputannya… hehehe..

    Sip deh!!

  4. wawanjavamall says:

    emang gk semua orang suka musik jazz, tapi kata Robert T Kiyosaki: orang kaya (bebas secara finansial) yg lebih cenderung pake otak kanan suka dengerin musik jazz.
    So…
    orang kaya yg bisa nikmatin jazz ato suka muzik jazz biar dianggap org kaya ???

    *suka bingung pas dengerin jazz,
    ni lagu nikmatinya gimana? xixixi…

Berikan komentarmu...