Semarang dan Bencana

Di salah satu komen postingan saya mengenai pemanasan global ada yang berkomentar kalau kerusakan alam atau bencana yang terjadi itu tidak hanya karena akibat perubahan iklim tetapi terjadi juga karena kebijakan tata kota yang kurang baik dari pemerintah kota.

Dan itu, saya rasa mungkin benar. Semarang memang paling rawan dengan bencana, tapi jangan salah bukan bencana alam tetapi karena bencana lingkungan atau ekologis.


Bencana jenis ini terjadi karena ulah manusia sendiri. Bagaimana daerah serapan air dibuka untuk perumahan atau alih fungsional yang lain tanpa pengelolaan lingkungan yang baik sehingga air hujan melaju tanpa penghambat yang cukup dan menyebabkan potensi bencana banjir menjadi lebih besar.

Atau bagaimana bencana longsor rentan untuk terjadi karena pengeprasan bukit yang membuat kondisi tanah menjadi labil.

Dari data LBH tahun 2005, ternyata 10 dari 16 kecamatan di Kota Semarang rawan dengan bencana. Artinya kita yang tinggal di Semarang memang hidup dengan potensi bencana di sekitar kita.

Kalau bicara soal solusi, kita sebagai masyarakat biasa tentu saja mempunyai keterbatasan untuk melakukannya. Beberapa solusi seperti membangun sumur serapan tentu saja bisa menjadi alternatif solusi untuk mengurangi potensi bencana banjir tapi tidak banyak orang juga yang sadar dan mampu untuk melakukannya.

Kalau sudah begini memang kita harus bersiap hidup dengan potensi bencana. Artinya kita memang harus lebih waspada dengan potensi bencana di sekitar kita. Waspada artinya bersiap secara pengetahuan atau informasi tentang menghadapi bencana.

Mungkin informasi macam ini bisa didapatkan melalu posko-posko 24 jam yang didirikan oleh PMI atau SAR karena kota Semarang terkenal dengan banjir dan robnya.

Dengan menghubungi pihak yang lebih mempunyai informasi mengenai bencana kita menjadi lebih siap untuk menghadapi bencana di sekitar tempat tinggal kita sendiri, entah itu sebelum, pada atau setelah bencana terjadi.

Adakah teman-teman yang mempunyai no kontak posko-posko tersebut?

Gambar diambil dari sini

13 thoughts on “Semarang dan Bencana

  1. teguh says:

    bisa dimulai dengan kita, misalnya dengan menyediakan halaman rumah kita untuk tidak dibuat beton/paving semua.
    Begitukan omm didut 🙂

  2. Yogie says:

    Kalo ga salah mas Adi dulu pernah bilang..

    “Kita sudah tidak masuk tahap ANTISIPASI terhadap bencana, tapi sudah masuk ke tahap ADAPTASI dengan bencana”.

    wah parah juga ya?

  3. alfin says:

    mesti posting gambare dari unissula tooo…:d/
    ya harusm dari kita sendiri jangan meludah sembarang tem[pat…bisa jadi banjir…

  4. Ahsan says:

    Aq juga turut prihatin dengan keadaan kota semarang saat ini. Disepanjang jalan pantura aja jalannya banyak yang rusak karena kena banjir. Di selatan kawasan garut daerah atas banyak yang dikepras! 1-2 tahun lagi mungkin banjir truzzz….:(

  5. massnohot says:

    pilih gubernur yg peduli mengatasi banjir..
    pilih yg peduli lingkungan..
    nah fannie 3S biasanya punya ide smart nih..
    ayoo fan kasi comment donk..jangan maunya difoto aja…udah pada tau kok kalo kamu cantik..hehehe..jangan sewot ya?:d

  6. sessy says:

    to starboard: got di semarang dah segede kali gitu kurang gede ya???gt2 dalemnya ada 1 meter lebih tau.
    mas-mas dan mbak-mbak kalau ikut aku ke ronggowarsito yuk, liat banjir n berenang ma motor. he he he he
    btw, org2 di kota lama tuh sudah sangat beradaptasi dengan air banjir rob dan teman2nya, bahkan aku yang nb lama g disemarang sekarang dah bisa memprediksi kapan rob itu muncul dan kapan akan lebih surut. murid2ku lebih jago lagi, yang anak2 kelas 5 n 6 dah pada tau kapan akan ada hujan angin dan kapan gaknya.
    solusinya:
    jangan lewat kota lama sekitar tgl 12 -20an krn sudah bisa di pastikan rob, buat mas pepeng jgn lewat Xgawe mas, lewat benuk indah aja. kalau campur hujan seperti sekarang, ya berarti tambah lama. :d

Berikan komentarmu...