Karena Loenpia Lebih Enak Dimakan Bersama!

Semarang Yang Saya Kenal

26

Tujuh belas tahun yang lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Semarang, dalam mata kecil saya kota ini adalah kota yang panas dan berdebu, jalanan yang lengang dan pusat keramaian bernama Simpanglima. Kedungmundu terkenal dengan keangkerannya karena adanya ‘bong cina’ yang luas. Jalan Brigjen Sudiarto yang masih bernama jalan Majapahit sekaligus tempat dimana terdapat Istana Majapahit yang legendaris diwaktu kecil saya. Ngaliyan, Mangkang? Ah, itu di luar kota Semarang demikian pikir saya waktu itu.

Masih dalam bayangan masa kecil saya, kadang saya bermimpi buruk tentang kota ini, lengang dan berdebu penuh dengan monster yang bersembunyi di got-got besar sepanjang jalan Sriwijaya yang bersambung ke jalan Veteran, termasuk mimpi seram tentang rumah tua di sudut jalan Ki Mangunsarkoro dan jalan Veteran bekas istana Oei Tiong Ham sebelum beralih rupa menjadi kampus seperti sekarang. Jajaran bangunan gudang reyot bekas gudang gula sang hartawan Oei di gang yang entah apa namanya di sisi jalan veteran pun pernah masuk dalam mimpi buruk saya.

Sebuah kota yang kosong, tidak seperti Jogja yang masih membawa langgam mataraman-nya (dulu) atau Solo sebagai jantung jawa pun Surabaya dengan tradisi areknya. Tidak banyak yang saya cecap dari kota ini selain “kota-kota-pesisir-pada-umumnya”. Kota yang kemudian tiba-tiba merobohkan gelanggang olahraga yang ada di sisi utara dari Simpanglima untuk menjadi sebuah mall pertama di Semarang, membongkar Mickey Mouse dan bersalin rupa menjadi Super Ekonomi yang juga tidak bertahan lama, kota yang tiba-tiba memunculkan Johar Shopping Center yang berdampingan dengan Pasar Johar yang legendaris (dan ternyata terbukti tidak bisa bertahan lama sehebat Johar). Kota yang merayakan haru biru tahun baru dengan dangdut massal di simpanglima. 😀

Lalu waktu pun bergulir, kota ini menggeliat, (mencoba) membuktikan kapasitasnya sebagai Ibukota provinsi yang bernama Jawa Tengah, maka terbentanglah jalan arteri dari ujung barat ke ujung timur, membelahlah jalan tol yang membujur dari utara ke selatan, tergusurlah hamparan sawah di Tembalang berganti menjadi perumahan, terbongkarnya kuburan kedungmundu menjadi petak-petak rumah dan pedagang dadakan. Mati surinya Sri Ratu di Peterongan yang kalah bersaing dengan Ciputra. Dan kota ini pun semakin menarik, seperti ubur-ubur bercahaya di lautan yang gulita, seperti durian ditengah-tengah kesemek. Menarik ribuan komuter dari kabupaten-kabupaten disekitarnya menjadi tumpuan bagi warga di wilayah pinggiran bernama Kendal, Demak dan Purwodadi.

Tujuh belas tahun berlalu semenjak pertama kali menginjakkan kaki di Semarang, Semarang yang sekarang adalah Semarang yang (mencoba untuk) kosmopolit. Kota yang kehilangan identitas dengan masalah klasik urban dan arah pembangunan yang semrawut. Tujuh belas tahun berlalu dan Simpanglima (masih) dan semakin bertambah kacau, perbukitan di punggung selatan kota yang dulu masih bisa saya jelajahi untuk sebutir dua butir buah jambu mete yang tumbuh liar sekarang terkepras untuk (konon) proyek reklamasi dan perumahan baru. Berjalanlah dari arah timur kota pada pagi hari dan anda akan merasa ada di Bekasi (I ryhme!), ribuan kendaraan roda dua yang menyemut beradu badan dengan ratusan mobil yang hendak menuju Semarang padahal dulu saya merasa kalau empat lajur di Majapahit adalah sia-sia karena sepinya. Anda pernah merasa kalau pertumbuhan simpang empat di kota ini tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan pengemis (atau yang ujung-ujungnya juga mengemis)? Bermobillah dari arah Simpanglima ke Pedurungan di timur melintasi poros jalan A. Yani-Brigjen Sudiarto, hitunglah jumlah perempatan yang ada (8 perempatan kalau saya tidak salah hitung) dan hitunglah pula berapa kali kaca mobil anda diketuk oleh pengamen dan sejenisnya. Atau anda pernah suatu kali harus berulang kali parkir di wilayah segitiga antara Simpanglima-Thamrin-Pandaran dan anda berulang kali dikejutkan oleh peluit “ajaib” tukang parkir yang tiba-tiba muncul entah dari mana datangnya, selamat datang di kota sejuta tukang parkir. (yap, berlebihan memang).

Niscaya pemerintah kota pun tidak berdiam dengan kotanya, sejumlah program bergulir, sejumlah ikhtiar berjalan, menetapkan visi “KOTA METROPOLITAN YANG RELIGIUS BERBASIS PERDAGANGAN DAN JASA” dengan uraian misi sebanyak enam butir yang mengingatkan saya akan butir-butir pancasila yang harus saya hapalkan sejak kelas satu SD, hingga menggelar proyek prestisius Semarang Pesona Asia (SPA) yang hasilnya sekarang adalah tebaran baliho SPA dengan senyum lebar Pak Mardiyanto dan Pak Kawi dengan tulisan Semarang Pesona Asia yang besar, selain itu? Situs web SPA yang sempat saya kira web kampanye Pak Kawi sebagai (calon) Gubernur Jateng. 😀

Entahlah, tujuh belas tahun berlalu dengan segala keruwetan tadi saya tetap mencintai kota ini, masih merasa nyaman dengan kota ini, nyaman dengan teduhan pohon di sepanjang kampung kali, nyaman kala mengucapkan “nderek langkung” bermotor di gang-gang seputar Sekayu yang dibalas dengan sambutan ramah “monggo”. Merasa bangga dengan kota-lama dan polder tawang, aset budaya yang beragam dan tentunya wisata kuliner yang nikmat luar biasa ala semarangan. Rob dan banjir? Ah, bukan masalah besar, selama ‘mereka’ tidak sedang bermimpi SPA.

Tabik.

gambar ditarik dari:
-semarang.go.id
wikimu.com
-skyscrapercity.com on (bozhart?)

26 Comments
  1. misisawa says

    nice post, bahasanya juga keren…
    salut..3x :):)

  2. stey says

    sejak dari 20 tahun yg lalu tekah menetapkan semarang sebagai kota tercinta atas nama apapun..nice post!!!

  3. teguh says

    Artikel yang bagus, sering2 posting di sini ya!

  4. koprilia says

    tepuk tangan yng meriah tuk postingan ini…salut2…

  5. Niff says

    Meski lahir di Semarang, saya baru kenal Semarang dari loenpia.net ini…

    *hiperbolis*

  6. nina says

    25 tahun sejarah hidupku di semarang…sungguh tak terasa…

  7. Faniez says

    yak dengan ini anda diundang untuk menjadi kontributor di Semarangan.loenpia.net :d/

    eh Kim, kok gambar kedua kayak Gatsu depan MPR-DPR? ;))

  8. anik batam says

    Hik.hikk
    Jadi kangen Semarang..
    Nice artikel
    Memang 23 tahun yang lalu motor dan mobil bisa diitung dengan jari.
    GOR??teringat dulu sering lonba drumband ma nyanyi di sana (jaman SD)..waktu saya masih piyik pernah juga nonton pawai FFI (festival Film Indonesia)di jalanan Simpang 5 yg lengang..cuman mau lihat muka pemeran Catatan SI Boy dan si Emon…
    Terkaget kaget en kamso melihat ada escalator di Mickey Mouse.Sri RAtu Peterongan kok sepi ya terakhir liat Agustus 2008..padahal jaman SMP thn 92an tuh Sri Ratu tempat nebeng AC habis pulang sekolah..dan selalu ramai.

  9. k1n6k0n9 says

    patut di contoh gaya ngeblog yang kayak gini nieh
    :x:x

  10. sapi2fany says

    gambar kedua mirip gatsu? mosok sih? lha memang gatsu kok… kekekeke… :-“

  11. escoret says

    akhirnya tulisanku di publish juga..!!!!
    sukurlah…

    *pede*

  12. Yogie says

    Mangtaabbb!!!!

  13. didut says

    sudah hampir 10 tahun tinggal di kota ini dan kelihatannya perut saya semakin menyukainya 😛

  14. Ahmed says

    Semarang… hmm Semarang…..
    Ngider kemana-mana ya akhirnya balik lagi ke Semarang…
    Semarang ooo Semarang….. 😕

  15. andi bagus says

    aku kangen ma semarang..kapan ya bisa ke semarang..:)>-

  16. nabila says

    17 thn di semarang,,
    berarti dtg ke smg sebelum saia lahir dunk.

    nice posting!

  17. mardies says

    Tulisannya panjang sekalleee…
    Tapi emang bagus =d>

  18. ableh says

    SELAMAT NATAL 2007
    dan
    TAHUN BARU 2008

  19. Rika says

    Terima kasih, siapapun kamu dengan postingnya udah ngobatin kangenku ma Semarang. Setahun yang lalu aku sempat jadi semut di kota lunpia itu. Terus kasih info terbaru buat semarang yo…
    Upahe… kenalan ae ya…:”>

  20. Martin says

    Haduh, koq jadi macetnya parah? Dah lama blom balik ke Indo nih. Banjirnya masih parah ga ya?

  21. indah says

    Ngeri Tok !!!!!! ^:)^

  22. sibi says

    dulu sebelum aku lahir, ortu selalu pindah2 kota bahkan ke luar jawa. sejak aku akan lahir, ortu memutuskan tuk stay di semarang saja.
    jadilah aku orang semarang asli sli sliii…
    dari lahir, sekolah, kuliah sampe kerja, aku stay di semarang…kadang merasa bosan saja. apalagi temen2 banyak yg keluar kota.
    sekarang..sudah 4 tahun aku meninggalkan semarang (di samarinda, kaltim) dan anehnya..malah aku makin cinta semarang dengan segala kekurangan dan kelebihannya…gak tau kenapa…makanya, setiap kali cuti (2 bulan kerja, 17 hari cuti) aku selalu pulang ke semarang.
    yg lucu…aku kangen ma lunpia semarang karena tidak ada yg seenak lunpia semarang..di tanah kelahiranku.

  23. Didi says

    :d benarkah yang bikin artikel ini temenku agus yg sekarang ada di jkt ya??

  24. sapi-2-didi says

    heh? agus? sejak kapan saya ganti nama? :-“

  25. peyok says

    wah.. jadi kangen kampung halaman nih…

  26. dedixcom says

    paparan yang oke punya, terus maju!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Rolex Replica Replica Watches