Dialek Semarangan, Sing Piye Nda?

Semarang bukan cuma Lawang Sewu. Semarang bukan cuma loenpia (kalo Loenpia.net ini jelas beda tentunya :p). Semarang bukan cuma Simpang Lima. Semarang bukan cuma Tugu Muda. Semarang bukan cuma rob dan banjir. Seperti Purwokerto dengan dialek Jawa-banyumasannya (yang ngapak-ngapak itu), saya yakin Semarang juga punya dialek sendiri. Selama ini bagi kita yang orang awam mungkin hanya menjawab seperti ini kalau ditanya dialek khas Semarang itu yang seperti apa: “Halah pokokmen nganggo ik, ok, he eh, nda, ndhes..ki lho” (Pokoknya ada ik, ok, he eh, nda, ndhes itu lho-Nin, terj. bebas). Setidaknya kita memiliki insting kebahasaan bahwa kita berbicara dengan logat yang berbeda dari orang Purwokerto, misalnya. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Kalau orang yang pernah belajar dialektologi pastinya akan lebih kritis. Tapi saya tidak akan membahas dialektologi di sini, hehe.

Yang saya sebut di atas tadi bisa saya anggap salient features (ciri yang mencolok) saja dari bahasa Jawa semarangan. Yang kebanyakan diketahui orang pada umumnya. Yang kalau orang akan berpikir, “Oh ini pasti orang Semarang” kalau mendengar seseorang menggunakan kata-kata itu. Tapi sepanjang pengetahuan saya, belum pernah ada literatur khusus yang membahas atau mengungkapkan dialek semarangan. Entah saya yang kurang membaca dan kurang gaul atau memang karena belum ada. Kata dosen saya (kalau saya tidak salah dengar), sepertinya memang belum ada yang meneliti dialek khas semarangan. Kalaupun ada, itu pun kurang komprehensif dan kurang valid.

Dialek Semarang yang kita kenal saat ini tampaknya merupakan produk akulturasi budaya. Kita tahu Semarang ditinggali oleh berbagai etnis dan setiap hari semakin banyak pendatang dari luar kota, entah karena bekerja atau sekolah. Ini tentunya memengaruhi bahasa Jawa semarangan, dan karena proses itu memakan waktu yang lama, terbentuklah bahasa semarangan yang bisa kita pakai sehari-hari ini. Untuk dialek asli Semarang, dalam arti jenis kosakata, bunyi, atau fitur linguistik lainnya yang hanya ada di Semarang, mungkin bia ditelusuri melalui dialektologi. Kita bisa saja mendapatkan data dari informan yang ada di pelosok Semarang atau mungkin daerah pinggiran yang tentunya paparan pengaruh bahasa lainnya tidak sebesar yang ada di pusat k0ta. Orang Semarang totok, so to speak.

Ini hanya tulisan singkat saja, ide yang tiba-tiba muncul mak bedunduk (lho ini tampaknya jargon khas Semarang juga ya) di kepala saya. Memang dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap dialek Jawa semarangan. Semoga saja tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi para warga Semarang pada umumnya dan linguis pada khususnya, karena jika bukan kita, siapa lagi yang akan mengungkap keberagaman budaya di Indonesia tercinta ini (sudah seperti menteri saja gayanya). Piye ngarahmu nda?

56 thoughts on “Dialek Semarangan, Sing Piye Nda?

  1. Wagiran says:

    COCOTE . . . . .
    NEK RA MUDHENG KI MBOK OJO DO NJEPLAK TO !
    CAH KOK DO NGGATHELI KABEH

    Nah… itu baru serem

  2. Putri.larit says:

    Yang anda tulis bukan DIALEK,Mas. Coba dipahami sekali lagi pengertian DIALEK. Penelitian yang berkaitan dengan dialek semarangan telah banyak dilakukan, entah berbentuk skripsi maupun tesis. Bahkan buku yang berkenaan tentang dialek tersebut juga telah banyak dilakukan. Saran saya, jika belum benar-benar memahami kajian suatu ilmu, jangan menulis di forum. Agar tidak menimbulkan banyak kerancuan.

    Studi pascasarjana-UGM

  3. ninazski says:

    terima kasih banyak atas feedback-nya…postingan ini ditulis waktu saya masih belajar dan blm menguasai banyak hal (dan smp sekarang pun saya masih harus banyak belajar), dan waktu itu memang saya merasa kesulitan mencari referensi bahasa semarangan…dan maksud saya dg menulis spt ini bukan bermaksud sok tahu, menimbulkan kerancuan, atau semacamnya..tapi agar saya mendapat feedback baik berupa kritik, saran, sanggahan, dsb.. untuk saling berbagi, dan selanjutnya semakin menambah pengetahuan dan pemahaman ttg suatu hal..monggo kalau panjenengan punya pendapat atau tulisan utk mengoreksi postingan ini, kami mohon pencerahannya 🙂

  4. jhoni gudhel says:

    do ngokong ngolo….
    jisi meneh ngimi boso semarangan….
    mode ngaju,wah yugume ngetham tapi gam ngijo modu….

  5. Ahmad Jayadi says:

    Menurut Saya Perbedaan, Bahasa ( Semarang,Pekalongan ) Kaya’k Gini …

    pa’ ora to.. ( Semarang ) Ciri khas nya pakai ( to )

    pa’ ora si.. ( Pekalongan ) Ciri khas nya pakai ( si )

Berikan komentarmu...