Disiplin Berlalu-lintas di Kota Loenpia

Lalu-lintas di kota Semarang makin hari makin semrawut. Bukan hanya makin banyaknya jumlah kendaraan yang melintas, tapi makin banyak orang yang menjalankan kendaraan dengan seenak perut sendiri (ya iyalah,…masak perut tetangga?).

Misalnya, menerobos lampu merah, menghalangi kendaraan yang mau belok kiri seperti di depan Lawangsewu, pake jalur kanan seperti di lampu bangjo depan Ada Banyumanik, belok kanan atau kiri tanpa menyalakan lampu sein, motor-motor lewat trotoar secara berjamaah, berhenti atau parkir di area letter S (dilarang berhenti) dan yang lagi ngetrend sekarang adalah sms-an atau telpun-telpunan pake hp sambil mengendarai mobil atau motor.

Padahal, di TV dan koran sudah sering diberitakan korban tewas nabrak pohon, nyungsep dan tabrakan gara-gara pake hp sambil berkendara. Mungkin masih butuh korban lebih banyak, baru kita percaya bahwa hal itu berbahaya.

Jujur saja, kita tentunya termasuk orang yang pernah atau sering melanggar tata tertib lalu-lintas. Mungkin malah tiap hari melanggar. Betul tidaak..?

Pernahkah kita membayangkan bahwa pelanggaran tersebut mungkin saja akan menyebabkan kita atau orang lain celaka? Sayang, biasanya begitu kendaraan kita jalankan maka kita langsung lupa dengan etika maupun tata tertib berlalu-lintas yang harus ditaati. Kadang kita udah nabrak orang lain, malah kita yang “misuh” …

Untuk referensi aja, dulu tahun 1986 saat saya pengin punya SIM C, kursus dulu secara berkelompok sebanyak 2-3 kali dengan materi etika, pengetahuan dan rambu-rambu lalu-lintas. Pengajarnya adalah anggota Polsekta Semarang Selatan. Masing-masing juga beli buku pedoman berlalu-lintas. Terus, ikut ujian teori dan praktek dengan biaya Rp 15.000,- (termasuk biaya transportasi menuju tempat ujian di Kota Lama dan Stadion Diponegoro). Alhamdulillah kita lulus dan berhak mengantongi SIM C yang segede Gaban… 🙂

Kalau di Jepang, biaya bikin SIM (unten menkyou) 300.000 Yen atau sekitar Rp 30.000.000,- lebih. Itu pun biasanya  lulus setelah 3-4 kali ujian praktek, bahkan ada yang sampe 7 kali ujian praktek baru lulus. Padahal tiap mengulang kita musti bayar materai 1.650 Yen (sekitar Rp 170.000,-).

Begitu juga denda yang berlaku gak pake tawar-menawar, gak pake “titip” sama Pak Poltas dan berlaku sistem poin untuk tiap pelanggaran. Kalau mencapai poin tertentu, SIM akan dicabut dan musti bikin baru lagi…:(

Mau tahu dendanya? Gak banyak koq…

  1. Mengemudi sambil pake HP (mobil 6.000 Yen, motor 6.000 Yen)
  2. Salah jalur                                    (mobil 9.000 Yen, motor 7.000 Yen)
  3. Menerobos bangjo                    (mobil 7.000 Yen, motor 7.000 Yen)
  4. Mengemudi minum alkohol  (mobil 500.000 Yen, motor  500.000 Yen)
  5. Ngebut                                            (mobil 25.000 Yen, motor 15.000 Yen)

Naah,..kalau 1 Yen = Rp 105,- monggo, dihitung sendiri….

Apalagi nabrak orang sampe mati, hukuman 10 tahun dan gugatan miliaran rupiah sudah menanti. Makanya orang Jepang selalu berhati-hati dalam mengemudi. Contoh, jika kendaraan sampe persimpangan tanpa lampu bangjo, maka mereka akan berhenti sekitar 10-15 detik, tengok kanan-kiri dulu sebelum tancap gas. Nggak main selonong macam kita-kita di sini.

Ah..nyaman sekali berlalu-lintas di sana. Pengin meniru mereka? Kalau begitu, langkah pertama adalah kita duluan yang insap. Baru ngajak orang lain ikutan insap,misalnya bikin gerakan off-line dan on-line untuk memprovokasi orang lain atau lembaga-lembaga terkait untuk sadar terhadap etika dan tata tertib lalu-lintas.

Kota lain boleh semrawut lalu-lintasnya, tapi mbok yao Kota Loenpia ini jangan ikutan semrawut. Tidak perlu saling menyalahkan, tapi mari kita benahi bersama.

20 thoughts on “Disiplin Berlalu-lintas di Kota Loenpia

  1. masfiq says:

    nuwun sewu denmas admin, gambar koq gak bisa tampil ya? tapi kalo “baca selengkapnya” di-klik baru bisa keluar gambarnya.bisa dibetulin?
    atau mungkin lektop saya yang udah error ya,……
    tengkiyu sebelumnya…

  2. slams says:

    walah aku tersungging nih
    banyak pihak yang harus mulai sadar… mulai dari aparat penegak hukum yang tegas serta bersih dan pengendara yang patuh terhadap peraturan
    termasuk yang koment ini

  3. mizan says:

    Yang sekarang kurang itu adalah etika berkendara, info yang Masfiq dapatkan di buku pedoman berlalu lintas itu sekarang sudah jarang yang mempelajarinya. Biasanya cuma diajari nge-gas dan nge-rem, tidak diajari etika berlalu lintas.

  4. nabila says:

    1000000000000000000% setuju sama apa yg ditulis masfiq. tiap pulang dan berkendaraan di semarang,,selaluuu aja dibuat kesel sama pengemudi yg nyetir seenaknya sendiri. terutama pengguna motor! (no offense ya,,emang bener kaaan).
    yg harus ditekankan menurut nabil jg, jangan egois lah kalo berkendara. kan di jalan itu ga cuma kita sendiri,ada beribu kendaraan lainnya.

  5. husein says:

    makin hari makin memprihatinkan, hampir tidak ada lagi etika berlalu lintas, aparatpun terkesan melakukan pembiaran terhadap pelanggaran ringan, pembiaran ini akan memicu pelanggaran yang lebih besar, mari kita gunakan logika dalam berlalu lintas, bukan asal srobot dan menang, walaupun nyawa taruhannya, mari kita tegakkan disiplin mulai dari diri kita masing-masing

  6. bangjo says:

    *kesumon kata bangjo* :))

    aku juga suka geregetan terutama yang motong jalan seenaknya atau nerabas lampu merah (belum ijo udah jalan dulu)
    haduh haduh…

    tapi aku masih sering sms/telfon sambil berkendara juga sih..hehe..
    *bertobat*

  7. ocha says:

    memang sebaiknya memulai dari diri sendiri dulu koq.. kalau diri sendiri tidak melakukannya terlebih dahulu, ndak perlu muluk2 berharap orang lain akan melakukannya 🙂

  8. masfiq says:

    @bang munip: tengkiyu, lg saya cuba nih…
    @semua: tengkiyu komennya, mari kita belajar disiplin berjamaah.. *lha imam-e sopo? mosoq mbah marijan?…..

  9. Nurmala says:

    salam kenal semua!

    betul, kita harus hati-hati selama di jalan..
    ya.. kalo ane mending berdoa baca2 apa gitu di jalan, semoga Allah selalu melimpahkan kewaspadaan kita selama di jalan, dan terhindar dari hal2 yang mungkin bs mencelakakan kita, amin.. semoga..

  10. Yogie says:

    Setuju mas..
    yang bisa dilakukan sekarang mungkin menunjukkan gimana cara naik kendaraan yang bener. Mulai dari diri sendiri, minimal mengurangi potensi mencelakai orang lain…

  11. genigunungpati says:

    waaaw menurutku pas oktober kemaren pas pulang disemarang masih terbilang sopan-sopan pengendara motor atau mobilnya…
    coba agan2 ini ke kota2 di sumatera kayak Palembang, Medan, Bengkulu trus di Pangkalpinang”kotaku sekarang” wuiiih bakal lebih stress 1000%….hehehehe
    ini beneran loh… itu lampu merah, rambu2 lalulintas bahkan polisi dah gak di anggap lagi…
    no offense …hihihi

  12. masfiq says:

    sebentar lg, jakarta akan menilang pengendara mobil yg sambil telpun-telpunan/ sms2-an dgn denda Rp 750.000,- setelah 3 bln sosialisasi lwt spanduk dll.

Berikan komentarmu...