Rayonisasi dalam PPD, Sip or Sux?

Proses seleksi penerimaan PPD (Penerimaan Peserta Didik) Semarang telah berakhir dengan diumumkannya hasil seleksi pada tgl 12 juli kemarin. Ada beberapa hal yang berbeda untuk tahun ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertama, adalah penggunaan proses komputerisasi secara penuh untuk tahun ini. Dalam hal ini Udinus perlu dipuji yang telah menyediakan sistem IT yang baik atau paling nggak “it worked” lah. Salut!

Kedua –dan yang mengganjal dalam hati– adalah proses Rayonisasi dalam penerimaan peserta didik. Daerah-daerah di Semarang terbagi dalam beberapa Rayon, demikian juga sekolah-sekolah negerinya. PPD tahun ini menerapkan peraturan Rayonisasi untuk sebuah sekolah sbb :
-Minimal 60% siswa berasal dari satu rayon dengan sekolah tsb.
-Maksimal 30% siswa luar rayon.
-Maksimal 10% siswa luar kota.
Rayon siswa di sini adalah berdasar alamat tempat tinggal siswa, bukan alamat isntansi jenjang pendidikan sebelumnya. Tujuan pemerintah mungkin saja baik, untuk pemerataan. Jadi diharapkan siswa yang pintar tidak terkonsentrasi pada beberapa sekolah saja. Namun, untuk beberapa kasus, terutama pada sekolah-sekolah unggulan, tentu ini merupakan kemunduran.

Ambil contoh SMA 3 Semarang (yang konon adalah SMA negeri Semarang yang terbaik), tahun lalu passing grade SMA itu kalau nggak salah (info dari adikku) adalah SKHU (baca : NEM) berjumlah 26-an (dari 3 mata pelajaran). Sedangkan tahun ini? Sekitar 18-an! Tentu angka terendah itu berasal dari siswa pendaftar dari dalam rayon, karena mereka harus memenuhi quota minimal 60% itu. Sebagai catatan pendaftar dalam rayon untuk SMA 3 tahun ini lolos semua dan… Effortlessly!

Nah, kalau sudah seperti ini, muncullah yang aku sebut dengan ganjalan tadi. Siswa yang bernilai tinggi atau bahkan sempurna (30), (lumayan banyak lho) akan menerima “imbalan“ yang sama dengan siswa yang kurang rajin yang bahkan hanya memiliki nilai 18. Pastilah, dalam hati mereka paling tidak akan menggerutu kenapa jerih payahnya 3 tahun hingga mendapat nilai setinggi itu ternyata ujung-ujungnya sama dengan siswa lain yang masuk tanpa perjuangan sama sekali, dengan nilai 18nya. Lebih parah lagi kalau mereka pada sampai tahap bahwa jerih payah mereka itu percuma, kalau toh hasilnya sama saja. Ngapain susah-susah?

Kalaulah misalnya pemerataan yang diidam-idamkan tadi telah tercapai, apa yang dapat kubayangkan adalah “kebosanan!”. Sekolah hanya akan menjadi proses rutin yang hanya ada untuk dijalani. Tak lebih. Siswa hanya akan berjuang dan berkutat di rayonnya masing-masing, kalau sudah begini kemungkinan terburuknya adalah tubuhnya rasa kedaerahan yang salah. Mimpi untuk mencapai sekolah idaman tak ada lagi, karena semuanya sama. Semangat dan persaingan akan jauh berkurang, kerena toh mereka akan diterima dalam rayonnya masing-masing. Pokoknya segala kesenangan, tantangan, kecemasan, ketegangan dan segala rasa campur aduk itu akan hilang, berganti dengan proses rutin yang harus dijalani sampai lulus. “Gregetnya“ akan hilang gitu loh!

Kalaulah kemudian kalau kualitas masukan sebuah sekolah sudah sama dengan adanya pemerataan tadi, terus apa yang akan membedakan sebuah sekolah dengan lainnya? Hmm.. mungkin kerennya gedung? fasilitas? biaya? Ya, uang akan mulai bicara. Karena percaya atau tidak, uang mempunyai naluri alami untuk berkumpul antar sesamanya. kalau sudah sampai tahap ini pusinglah sudah.

Btw, aku juga tahu kalau nilai bukan segala-galanya (just in case ada yang protes). Ilmu sebenarnya yang hakiki jauh lebih penting. Tapi kenyataannya my friend, sekolah adalah lembaga formal, ada prosedur yang harus dilakukan. Dan prosedur tentang keberhasilan pendidikan itu berada pada “nilai”. Well, kita lihat saja beberapa tahun ke depan (kalau metode rayonisasi ini masih tetap dipakai) apakah dunia pendidikan ini akan lebih maju atau tidak. Jadi bagaimana rayonisasi menurutmu? Kalau menurutku sampai saat ini, it’s definitely SUX! It’s destroying dreams, -moreover- it’s youth’s dreams! Tapi ini hanya pendapat aku pribadi lho 🙂

education matter!

8 thoughts on “Rayonisasi dalam PPD, Sip or Sux?

  1. jDugDer says:

    Pelatih Brasil pernah dikritik: “cuma bisa melatih tim besar, coba yg dilatih tim kecil…apa bisa berhasil????”

    mungkin sekarang berubah, tp ga otomatis jadi buruk. waktunya sekolah favorit membuktikan: berhasil bukan dari input yang baik, tapi dari proses yang baik.

    Bravo pendidikan, bravo guru…. 😛

  2. setan_alas says:

    Tetapi semua itu kurasa kembali kepada orangnya sih meskipun sekolah di lingkungan yang buruk sekalipun kalo dia memang niat dan berusaha keras ingin maju (meskipun teman2nya nggak kayak dia) kurasa dia akan enjoy aja, toh yang akan menikmati hasilnya dia sendiri kan ?
    Go to hell with the others.

  3. Yogie says:

    Ternyata yang aku takutnya bisa saja terjadi. Seperti yang pernah aku tulis di blog, rupanya Pemerintah mau mencetak siswa yang pandai dalam menghapal.. bukan siswa yang aktif, cerdas, punya semangat bersaing.. [-(

    Jadi ya jangan heran kalo di generasi kedepan, ada orang yang hanya melihat hasil, tanpa pernah mau tau apa yang dikerjakan sebelumnya. Serta orang yang cuma tau “teknik” bukan tau “konsep”. Padahal suatu teknik/cara akan cepat basi.. :-b

  4. sesy says:

    aku juga kaget waktu denger kabar ini, rayonisasi itu kan sebenarnya berdasarkan alamat sekolah asal, bukan dari alamat tempat tinggal siswa, kl caranya spt ini kasian anak2 yang tinggal di panggir kota karena jelas mutu sekolah lebih rendah di banding yang di pusat. come on faktanya aja lah, selama ini yang di perhatikan cm yang dipusat kota saja kan? di tambah lagifasilitas dan standar sekolah yang berbeda untuk tiap rayonnya. gak usah jauh2, yang sama2 negeri aja, SD tambak rejo dan SD Citarum standar nilainya sudah beda, padahal jaraknya berdekatan. tapi semoga aja bapak ibu guru yang ngajar di sekolah2 lanjutan itu mampu menunjukkan existensi dan kemampuannya.

  5. anhar says:

    masih terkait penerimaan siswa baru….

    niat baik panitia PPD Kota Semarang dengan mengembangkan sistem on-line akan tercoreng dengan keputusan walikota yang tidak konsisten.
    kuota pendaftar sekolah negeri yang telah ditetapkan jauh-jauh hari, kini ada kabar akan ada penambahan kuota sebesar 10% setelah pengumuman penerimaan siswa tersebar luas.
    angka 10% berarti tak kecil.
    kuota yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni 10.494 bangku (SMP), 5.168 bangku (SMA), dan 3.700 bangku (SMK).
    Jika ditambah 10%, berarti akan ada penambahan 1.936 kursi tambahan, yang terdiri atas 1.049 bangku (SMP), 516 bangku (SMA), dan 370 bangku (SMK).
    Penambahan kuota itu menunjukkan INKONSISTENSI Dinas Pendidikan dan Walikota. Rasa keadilan tak digubris lagi bagi pendaftar yang sudah berupaya keras agar bisa masuk sekolah negeri dengan kemampuan yang dimiliki.
    Penambahan kuota ini jelas merupakan ”anak-anak titipan” yang tidak lolos seleksi melalui sistem komputerisasi on-line! Meski berdalih dengan alasan pengembangan konsep manajemen berbasis sekolah, penambahan kuota ini tetap TIDAK DIBENARKAN!!!

  6. fian says:

    indonesia gitu loach!!!!
    sok konsep
    sok prinsip
    sok prosedur
    sok hukum
    sok-sok-an…. padahal di sumpel duit yo meneng..!!

    **nada sinis, jengkel, payah dll**

  7. ferryariawan says:

    ikutan comment ah … meskipun threadnya udah termasuk “uzur”…..
    emang sekarang gitu yah? turun passing grade 8 point — ;))

    hmm.. klo gini sih yang jadi pertanyaan bukan anak2 pintar yang masuk ke sekolah yang tergolong “kurang berkualitas”, tapi apa yang bakal terjadi ke SMA 3 dengan komposisi siswa seperti itu (penurunan kualitas siswa) — bakal bisa jaga kualitas – dan tingkat kelulusan ga 😕 ? Ga bisa bohong lah — semua sekolah “berkualitas” tuh PASTI didukung ama anak2 yang emang dasarnya pinter dan/atau rajin … betul ga?

    Klo untuk sekolah2 lain yang dapet lungsuran anak2 pinter … pasti standarnya bakal naik …. soalnya ya seperti alasan’e setan_alas ;))

    Keep in mind guys — meskipun sekolahnya di daerah tengah kota — belom tentu warga sekitarnya tuh tergolong orang pintar2 … dan mungkin orang2 pintar milih tinggal di daerah pinggiran kota … ;)) lagipula kebanyakan(kalo ga semua) kompleks perumahan(sebagai salah satu warga perumahan :p) tuh di daerah luar semarang.

    Sekali lagi — hanya berbagi pemikiran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *