Kala : Semarang’s Tour de Artistic

Kala

Santai saja, tulisan ini spoiler free…

Kala, film nasional ini baru saja dirilis dan saat ini bisa ditonton di bioskop. Film ini lahir dari Joko Anwar, sutradara dari Film Janji Joni yang telah terlebih dulu menuai kesuksesan. Filmnya sendiri aku rasa cukup istimewa dan lumayan memenuhi hype, bagi yang mengikuti perkembangannya. Joko Anwar sekali lagi telah menunjukkan keahliannya sebagai sutradara.

Film ini bercerita tentang sebuah negeri antah berantah yang sedang dilanda kekacauan. Tokoh utamanya, Janus adalah seorang wartawan yang hidupnya sedang kacau, pekerjaan dan keluarganya berantakan. Ketika dia sedang mengikuti sebuah kasus pembakaran lima orang oleh massa di sebuah terminal, dia mulai terlibat dalam sebuah skema cerita yang lebih besar, melibatkan harta karun nasional dari jaman raja-raja dahulu, tradisi, dan lengkap dengan nuansa mistiknya.

Menurutku yang paling istimewa dari film ini adalah setingnya. Tiap scene serasa sebuah karya seni yang indah. Latar belakang, pencahayaan, kostum semuanya bagus. Dan Istimewanya lagi, terutama bagi warga Loenpia adalah bahwa seperti film Gie terdahulu, sebagian besar film ini gambarnya diambil di Semarang! Lokasi yang paling banyak diambil adalah bangunan – bangunan kuno kota kita ini. Jadi akan sering sekali tampak Kota lama dan Lawang Sewu. Namun menurut sutradaranya memang sengaja tidak mengeksploit landmark-landmark terkenal di Semarang, karena seting film ini adalah negeri antah berantah, bukannya Semarang. Namun tetap saja bagi warga Semarang, akan tetap bisa mengenali. Bahkan Lawang sewu dipakai untuk beberapa shoot sebagai tempat yang berbeda-beda. Film ini telah menetapkan standar yang tinggi di perfilman Indonesia dari segi artistiknya. Film-film berikutnya sebaiknya malu, kalau tiap scenenya hanya asal shoot, yang seakan-akan effortless. Kudos buat seluruh kru film Kala. Pokoknya film ini highly recomended, terutama bagi warga Semarang.

Kalau boleh sedikit kritik, mungkin adegan orang merokoknya dikurangin, memang sih asap rokoknya dipadu dengan cahaya remang-remang memang terlihat art, tapi busyet deh, setiap orang di film ini sepertinya perokok! Kedua mungkin bentuk pedang-nya si Fahrani itu yang terlalu video game bgt, coba ganti dengan pedang biasa, golok, atau keris. Itu saja, Kalau tentang hal yang lebih dalam lagi, saya kurang tahu, saya orang awam :d Silahkan kalau ada yang mau ikut sumbang kata tentang film ini dan tentang Semarang. Atau ikut mereview? tulis saja dulu di bagian komentar, kalau oke, saya naikkan ke artikel utama. 🙂

Blog Resmi Film Kala : http://deadtimethemovie.blogspot.com/. Gambar juga diambil dari sana. Lihat lebih banyak foto dan preview clip di sana. Tengok juga Flickr-nya, dan tebak2 daerah mana saja yang dipakai oleh Film ini? :d

21 thoughts on “Kala : Semarang’s Tour de Artistic

  1. jiban says:

    pertamaax….cukup dengan rogoh kantong senilai 20rb bisa nonton KALLA, ditambah telur puyuh 8+es lemon tea, :-w:-?

  2. BunSal says:

    *sedikit ulasan berdasarkan blog P Joko sendiri dan reviewnya di blog Ewink yang juga akan tampil di MAXIM Magazine*

    Dari gambar2 scene di blog P Joko [sutradara], juga dari poster, kesan artistik memang sangat kuat. Aura thriller sudah mulai terasa.
    Aku pribadi, langsung teringat pada thriller2 ala mafia Italia. Roman muka dingin dan beku, mantel2 panjang dan kesan suram di sepanjang film.Bretel dan kemeja putih kusam yang digulung selengan. Jenggot tak tercukur, dan celana khaki berwarna gelap. Mafia a la negeri antah berantah yang kacaunya begitu mirip dengan Indonesia? 😕

    Sayang, belum menonton langsung. Kesan pertama ini hanya berdasarkan cover. Dan selalu tidak bijak untuk ‘judge something by its cover’.

    Akan lebih lengkap, jika aku berkesempatan menontonnya langsung…

  3. H4rs W4r10r says:

    setujuh bud, emang film indonesia harus kayak gini (padahal belum nonton :d). begitu juga dengan sinetronnya (padahal gak terlalu suka nonton sinetron :o) jangan isinya cuman sinetron melulu, tiap kali nonton tv isinya cuman sinetron aja gak ada yang laennya. yang bikin males lagi kalo gak sinetron percintaan, putus cinta,cinta ditolak, nangis. jadi males nontonnya :d. minjem dvd film aja perang2an biar seruuuu!!! spiderman 3 why you don’t coming2 🙁

  4. kian says:

    udah bisa ditonton belum ya, dimana?…itu makan telur..maksudnya apa?..beli tiket dapet souvenir telur plus es…kae ki nonton neng ndi to?…:-?

  5. [H]Yudee says:

    :d emang bisa to, nonton sambil bungkus telur puyuh …:-?

    wah .. besok kalo nonton isa bungkus gorengan neh ??? :)>- yo

  6. Candra Aditya says:

    KALA aalah sebuah masterpiece. Percaya atau tidak, di bioskop waktu saya menonton hanya ditonton 7 orang termasuk saya. 6 orang lainnya berpasangan. Saya nggak tau mereka serius atau tidak, yang jelas yang tereak-tereak melihat ‘malaikat setengah suster ngesot’ itu cuman saya.

    JOKO ANWAR pernah janji bahwa KALA adalah sebuah film petualangan asyik dan menegangkan. Saya nggak menyalahkan dia, karena jadinya memang seperti yang dia inginkan. Walaupun hasilnya melebihi semua ekspetasi yang saya kasih.

    KALA katanya mau dibikin trilogi, waduh kayaknya bakalan keren banget. Tapi, menurut saya, itu juga bakalan nunggu lama. KALA aja udah nggak beredar di bioskop-bioskop. Padahal, filmnya 10000 kali lipat lebih keren ketimbang film Ekskul sekalipun yang mendapatkan piala citra dari lembaga film yang katanya paling prestisius di Indonesia.

    Fachri Albar memikat banget. Sumpeh dehhh… walaupun di Jakarta Undercover saya harus takjub ngeliat aktingnya. Fahrani juga psycho. Kayak Sydney Bristow di serial ALias aja…

    Yang jelas, KALA bukan film muluk-muluk pengobral janji. Tapi film yang bagus sekaleee…

    PS : Kalau film ini nggak menang di FFI tahun ini (saya juga sangsi kalo FFI masih ada tahun ini) berarti jurinya benar-benar menobatkan diri sebagai juri yang sama sekali tak punya selera.

  7. Joko Gundul says:

    Kalau Joko Gundul boleh sedikit kritik, mungkin adegan orang merokoknya dikurangin, memang sih asap rokoknya dipadu dengan cahaya remang-remang memang terlihat art, tapi busyet deh, setiap orang di film ini sepertinya perokok! Kedua mungkin bentuk pedang-nya si Fahrani itu yang terlalu video game bgt, coba ganti dengan pedang biasa, golok, atau keris

  8. nugroho helmi says:

    skali kali ngadain workshop penyutradaraan di jogja bos…..saia juga pengen jadi sutradara.hahahahahaha.obsesi saia sutradara….
    gmna bos saia tunggu…..wajib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *