Bumi Semakin Hangat…

Setelah Kopdar di rumah Mas Budi Sabtu kemarin, aku jadi insyaf, bahwa aku seharusnya lebih banyak berbagi cerita di halamannya loenpia.

Sekarang sudah bulan Januari. Di daerah Pantura ini sedang musim duren, rambutan dan kelengkeng, sementara di belahan bumi utara (yang jauh banget dari Pantura…) pohon-pohon sedang gundul, dan musim dingin seharusnya sedang membekukan negara-negara di sana.

Akhir November lalu seorang teman di Swedia mengirimkan SMS saat salju pertama turun di Stockholm. Tapi, lain ceritanya di Paris. Kata teman-temanku sih sampai awal Januari ini salju belum turun juga di sana. Saat tahun baru kemarin malah suhu di sana mencapai 10 derajat. Terlalu hangat! Hari ini juga, sampai 11 derajat…ckckck…

Kabar lain datang dari mantan orangtua angkatku. Hari minggu lalu mereka baru pulang dari Annecy, sebuah kota kecil di lereng pegunungan Alps. Tahun lalu aku sempat juga ke sana, lalu mampir ke sebuah ski station di Roche sur Foron. Saljunya lumayan tebal karena saat itu sepanjang hari hujan salju turun. Tapi tahun ini beda. Banyak ski stations yang terpaksa tutup karena salju yang ada tidak cukup tebal untuk menutup permukaan tanah. Saat aku di sana suhu rata-rata minus 5 sampai 1 derajat celcius, tapi awal tahun ini suhu sering berada di atas titik nol. Akhirnya banyak turis yang sudah jauh-jauh datang dengan niat bermain ski atau sekedar main perosotan jadi kecewa.

Mundur sedikiiit…lagi, aku jadi ingat musim gugur kemarin di Jepang. Saat turun dari pesawat di Narita, aku yang sudah siap memakai baju dobel merasa kepanasan. Aneh banget rasanya, bulan Oktober kok masih hangat, padahal tiga tahun lalu tubuhku yang defisit lemak ini sudah menggigil kedinginan. Hari-hari selanjutnya sama saja, bahkan suatu malam di Shinjuku aku dan teman-teman kaget melihat indikator suhu di atas sebuah gedung masih menunjukkan suhu 18 derajat…

Ada lagi cerita dari musim panas lalu. Suhu di Perancis bisa mencapai 38 derajat! Banyak priyayi sepuh yang jadi sakit karena dehidrasi, bahkan ada yang sampai meninggal. Prihatin..prihatin…

Di Semarang sendiri aku sampai mimisan saat suhu udara sedang panas-panasnya di bulan September kemarin, dan saat ini, di bulan Januari, hujan juga tampaknya enggan mengikuti pakemnya. Biasanya Johar dan Bubakan sudah tergenang sepanjang hari, tapi sekarang masih kering-kering saja. Ah, kayanya “Si Anak Nakal” El Nino jadi betah berlama-lama gara-gara mbak “Tatenal Maka TataYoung” nyanyi tentang El Nin(Y)o…

Dengan “cara bodhon” (yang lupa arti istilah ini boleh japri..) dan “ilmu titen”, aku yang awam soal hitung-hitungan cuaca aja bisa tahu kalau global warming, memanasnya bumi telah betul-betul terasa dampaknya, sementara beberapa tahun lalu gambaran menghangatnya bumi masih terasa di awang-awang dengan cerita berlubangnya lapisan ozon, atau mencairnya salju di benua pinguin.

Yang mengawang-awang dulu sudah bisa terasa dan terlihat hari ini. Para pinguin mungkin agak lebih senang karena sekarang mereka ngga sendirian lagi merasakan memanasnya bumi.

Ada komik di majalah Bobo tahun 80-an dulu (kalau baca Bobo di tahun itu, kira-kira sekarang umurnya berapa ya?:”>) yang bercerita tentang bumi masa depan, saat tanah yang ada sudah terlalu tandus buat ditanami dan orang-orang awam jadi cuma kenal bunga dan pohon plastik.

Serem juga kalau itu nanti terjadi, kalau sejak hari ini orang ngga kunjung memahami “bahasa bumi”… Jangan sampai ah!

5 thoughts on “Bumi Semakin Hangat…

  1. masfiq says:

    Iya, lagi musim gombal warming eh..global warming ding,….
    Di sini juga salju nggak mau turun, malah hari ini suasananya kayak musim semi, jam 5 sore masih terang. Udara juga anget.

    Orang kita juga menyumbang acara global warming dengan aksi pembalakan liar dan bakar-bakaran hutan yang gak pernah berhenti. Sementara negara-negara maju terlalu kompromi dengan pabrik-pabrik besar yang jadi salah satu aktor perusak Ozon. Prihatiin….

    Masfiq

    http://www.AsianNetBisnis.blogspot.com

  2. sesy says:

    gak bisa bayangin deh kl beneran bumi jadi terlalu tandus untuk ditanami . lagian meski aku gak suka banjir di daerah kota lama, tp bt juga kl tiap hari sepanas ini.

  3. fadilah says:

    global warming!!!!
    sebenernya sebuah peringatan buat kita sebagai makhluk yang masih hidup di dunia ini,sudah seharusnya dan bahkan kewajiban kita sebagai kahilafah di muka bumi ini untuk melestarikan dan menjaga alam!!!
    AYOOO!!! kita sama-sama jaga kelestarian alam!!!
    jangan nunggu udah hancur, baru di bereskan!!>:/

  4. djasmin sinaga says:

    bueener mas2 itu peringatan klo kita bisa belajar dari orang2 tua kita punya pantangan tidak merusak alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *