Jejak Loenpia di Ponorogo

DSC03216
Memenuhi undangan Ulangtahun yang 1 komunitas blogger Ponorogo, maka 6 tukang Loenpia menapakkan kaki ke Ponorogo. Ariw, Sopyan, Pepeng, Hars, Lala, Okky bergerak menuju Ponorogo pada hari Sabtu, 8 Agustus 2009. Perjalanan Semarang-Ponorogo memakan waktu kurang lebih 8 jam. Tujuan kami pertama adalah tempat penginapan yang sudah disediakan oleh panitia acara. Bukan hal yang mudah untuk sampai ke TKP, karena langit sudah mulai gelap dan jalan menuju lokasi gelap, sempit, berkelok-kelok, dan naik turun. Sebelah kiri jalan adalah tebing dan sebelah kanan Telaga Ngebel yang tanpa di batasi oleh pembatas jalan. Jadi selama melewati jalan tersebut kami merasa sedang mempertaruhkan nyawa, meleng dikit nyebur deh.

DSC03090

DSC03155
Acara pertama kita adalah menyaksikan Festival Reyog Mini Nasional di alun-alun Ponorogo. Situasi di alun-alun ramai karena ada pasar malam disitu. Setelah mengambil tempat terdepan, kita dengan sukses menikmati pementasan Reyog tanpa gangguan penonton dibelakang. Sekedar info, banyak sekali masyarakat yang menyaksikan pementasan ini dan berdesak-desakan berdiri. Hanya 3 pementas Reyog yang kita saksikan, karena panitia mengajak kita meninggalkan tempat tersebut.

DSC03220

100_4134

100_4122
Lokasi pemberhentian kita berikutnya adalah MAKAN. Mengunjungi suatu kota tanpa menikmati makanan khasnya adalah suatu dosa besar. Malam itu kita menikmati Sate Ponorogo di sebuah angkringan ditemani susu jahe, jadah bakar, dan tahu bakar. Menurut seorang warga disitu, harga sate yang kita makan itu biasanya Rp. 6.000,00 tapi entah mengapa malam itu kita membayar Rp. 9.500,00 untuk sepiring sate ayam dan lontong/nasi.

DSC03225

100_4198

DSC03235
Pagi harinya baru kita bisa menikmati Telaga Ngebel. Sebuah telaga yang dikelilingi pepohonan besar yang katanya berada dikaki gunung Wilis. Pagi hari kami lewatkan dengan menikmati udara disekitar telaga dengan berjalan kaki, karena penginapan kami berada persis didepan telaga. Secangkir Kopi susu hangat seharga Rp. 15.00,00 menjadi incaran kami ditemani gorengan. Menikmati alam disekitar Telaga kurang lengkap tanpa mengarungi telaga tersebut. Dengan membayar Rp. 5.000,00, kami mengelilingi danau.

Sebuah kedai makan yang menyediakan ikan nongok pun tak terlewatkan oleh kita. Bentuk ikannya seperti ikan bandeng, tapi banyak durinya. Ikan tersebut dihidangkan bersama dengan nasi putih dan tiwul. 3 ekor ikan 2goreng & 1 bakar, nasi putih 1 cething, tiwul 1 cething, es teh 3 gelas hanya Rp. 36.000,00. Rasa ikannya enak, namun makannya harus extra hati-hati bila tak ingin durinya menusuk anda.

100_4164
Demikian laporan perjalanan singkat Tukang Loenpia di Ponorogo. Meskipun lelah, Letih, lesu karena semalam tidak tidur, tapi kesan yang tertinggal adalah kebahagiaan. Semoga lain kali kita bisa berkunjung lagi ke kota lain.

21 thoughts on “Jejak Loenpia di Ponorogo

  1. dp says:

    Traveling dan kulineran yang mantap. Demi silaturahmi blogger, bela-belain puluhan jam di jalan. Tapi kok malah nggak ada cerita tentang ultah Ponorogo’s blogger, Ky? Ada statement apa, ikut PB 2009 apa nggak? dll?

  2. Andy MSE says:

    Ngebel memang moy!….
    *pas makan ikan ngongok itu, aku kelingan bandeng presto… coba kalau ngongok itu dipresto, pasti lebih maknyus dan aman di lidah…
    salam kompak!

  3. denologis says:

    matur suwun atas rawuhnya dan mohon maaf atas segala kekurangan dalam servis yang kami berikan….
    salam (jangan) kapok! *nglirik salamnya pak Andy MSE* 😀

  4. okky says:

    @pak DP: Pas acara itu berlangsung mata saya udah gak kuat lagi untuk melek, maklum semaleman gak tidur.

    @mas Pepeng: 4 jempol buat Ariw!!

    @Pak Andi: Iya ya pak.. salam kompak juga!

  5. okky says:

    @Mas Didut: yo gak lah..
    @Azaxs&Dafty: terimakasih atas undangannya & penyambutannya.
    semoga lain kali bisa kesana lagi..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *