Kota Semarang Harus Belajar Dari Banjir Jakarta

Di musim penghujan seperti sekarang ini pastilah sebagian masyarakat kota Semarang yang ada di wilayah bawah merasa was-was, karena setiap kali hujan biasanya mereka selalu waspada akan hadirnya bahaya banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Selain bahaya banjir, mereka juga harus waspada terhadap genangan rob yang reguler dialami tiap tahunnya. Masalah banjir sepertinya menjadi menu wajib bagi kota-kota besar, terbukti minggu ini ibukota negara Jakarta terkena parahnya bencana banjir ini. Ribuan rumah terendam sejak satu minggu yang lalu dan banyak pengungsi yang saat ini mulai kelaparan dan terserang penyakit pasca banjir. Bahkan daerah yang biasanya tidak terkena bencana banjir, di tahun ini mereka harus merasakan bencana ini.

Banjir besar di Jakarta telah menjadi siklus 5 (lima) tahunan, hal tersebut telah terbukti meskipun Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso pernah menepis anggapan tersebut. Beliau meyakinkan warga Jakarta bahwa tidak akan terjadi bencana banjir di tahun ini, beliau meyakinkan bahwa tidak ada siklus banjir lima tahunan di Jakarta. Namun kini terbukti sudah bahwa siklus lima tahunan tersebut benar-benar terjadi. Lima tahun setelah tahun 2002, pada bulan yang sama (Februari), banjir besar tersebut datang kembali. Banjir di Jakarta disebabkan oleh berbagai masalah, air kiriman dari daerah atas seperti Depok dan Bogor dikatakan sebagai salah satu pemicu bencana ini. Belum lagi curah hujan yang tinggi, yang terjadi di kota Jakarta pada hari yang sama. Bukan itu saja, masalah sampah dan ketidak mampuan saluran air menampung debit air yang besar, juga merupakan penyebab terjadinya bencana banjir kali ini.

Banjir

Dari bencana banjir yang terjadi di Jakarta tersebut selayaknya-lah kota Semarang tercinta dapat belajar banyak. Kondisi geografis yang hampir sama dengan kondisi Jakarta (terdapat wilayah atas dan wilayah bawah) memungkinkan terjadinya kondisi seperti ini. Banjir kiriman dari wilayah atas (daerah Ungaran, Gunung Pati dan Mijen) nantinya dapat memicu terjadinya banjir kiriman seperti yang terjadi di Jakarta saat ini. Daerah atas yang berubah wajah adalah potensi besar atas terjadinya banjir di masa depan. Berkurangnya daerah resapan air akibat penebangan hutan untuk pembangunan kawasan perumahan dan pabrik yang tidak berwawasan lingkungan (tidak memperhatikan AMDAL) menjadi penyebab terjadinya masalah ini nantinya. Aliran air, berdasarkan hukum alam akan mengalir dari tempat atas ke wilayah bawah, begitu juga ketika nantinya daerah resapan air di wilayah Semarag atas berkurang, maka secara keilmuan, kelebihan air tersebut akan mengalir ke Semarang bawah.

Di saat ini pun sebenarnya banjir kiriman telah terjadi di Semarang, lihat saja akhir-akhir ini di wilayah Mangkang yang belum lama tergenang banjir kiriman. Penebangan hutan dan penggundulan lahan di sekitaran dataran tinggi Mijen dan Ngaliyan diprediksi sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir di wilayah Mangkang. Bencana yang belum seberapa besar tersebut sebenarnya dapat menjadi contoh agar kota ini selalu berhati-hati terhadap bencana banjir. Manajemen banjir di Semarang sepertinya lebih baik daripada Jakarta, dimana Semarang memiliki dua kanal untuk mengalirkan aliran air banjir yaitu Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur yang dibangun saat pemerintahan Belanda. Lain dengan Jakarta yang hanya memiliki satu Banjirkanal (Barat), dan pembangunan Banjirkanal Timur baru dimulai pada akhir tahun 2006 lalu, dan hingga tahun 2007 ini belum juga selesai proses pembangunannya. Namun dengan segala keunggulan teknis tersebut, kota Semarang tetap harus berjaga-jaga akan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Selama ini pemerintah kota hanya berfikir secara teknis bagaimana agar aliran banjir dapat segera terbuang/teralirkan ke laut, tetapi pemerintah kota meng-anaktirikan penanggulangan banjir secara sosial. Pemkot melupakan gerakan edukasi untuk merubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat tentang kelestarian lingkungan. Penyuluhan tentang pembangunan wilayah yang berwawasan lingkungan, seolah belum terlihat secara riil gencar dilakukan Pemkot. Kadang-kadang malah pihak swasta yang ber-uang banyak dapat dengan mudah melanggar Master Plan kota Semarang. Daerah yang seharusnya dikhususkan untuk pemukiman, malah dibangun gedung pencakar langit seperti Hotel dan Pasar Raya. Pembangunan pertokoan, pemukiman dan perkantoran pun tidak menerapkan prosentase daerah resapan, semua sibuk membangun dan menutup tanah dengan semen, sehingga air tidak dapat meresap ke dalam tanah, dan hanya dapat mengalir ke tempat rendah.

Belum lagi masalah pasang air laut pada saat bulan purnama, kondisi seperti ini akan mempersulit air banjir mengalir ke laut, sehingga kondisi air pasang pada saat terjadi banjir harus diwaspadai pula. Untuk mengantisipasi kondisi seperti ini sebenarnya telah difikirkan solusinya, seperti model pintu air pengendali banjir dan pasang yang dibuat oleh Dr. Slamet Imam Wahyudi, DEA. Semua masalah yang disebut diatas menjadi potensi bencana banjir di kota ini apabila segenap komponen kota Semarang tidak menyadari hal tersebut sedini mungkin. Mari bahu membahu memperbaiki keadaan, sebelum bencana mendatangi kota kita. Pemerintah kota tidak bisa sendirian mengatasi hal ini, butuh kerjasama sinergis antara Pemkot dengan masyarakat. Ayo sadar lingkungan mulai sekarang! Agar kota kita tetap cantik!. Agar slogan ”Semarang Pesona Asia” tidak sekedar isapan jempol belaka!.

(Ditulis oleh : Winastwan Gora S. Khusus untuk Loenpia.Net)

12 thoughts on “Kota Semarang Harus Belajar Dari Banjir Jakarta

  1. boku_baka says:

    waduh gawat ini,
    Bisa2 nanti predikat kota banjir direbut sama jakarta, kita tidak boleh lengah! Banjir itu ciri khas kita!
    hehehe.. becanda.
    Soal banjir, memang layaknya berbenah sebelum banjir, jadi mencegah gitu lho. Bukan kalo sudah banjir baru bingung dan kaget2..

  2. wawanjavamall says:

    kemaren awal februari ada seminar interaktif by bbc Indonesia di patra jasa dgn tema bencana kini dan nanti: sebelum bencana datang. abis aku nulis soal penanganan banjir, eee.. malah jakarta banjir beneran — jadi ngeri, so… mari kita galakkan dan dukung KOTAKU HIJAU 2007. jgn cuma kopdar. isi dengan kegiatan menanam bersama misalnya, sapa tau rekan2 loenpia jadi juara 1 dapat 2 juta plus 1 kambing.
    soal banjir
    waspadalah…waspadalah…!
    (kata bang napi)

  3. masfiq says:

    mari kita siapkan “gethek” (rakit), jadi kalo pas datang banjir bisa kita bikin acara “gethek race”.. ben rame… 🙂

  4. flyingcow says:

    semarang yen ndak dipikir serius, bakal ketiban nasib kyk jakarta lho, sekarang penduduk belum mulai banyak, lha nanti kalo sudah sepadat jakarta, repot….

  5. angeL_wings says:

    keren juga kalo ada kanal disini, ntar serasa di Venice Italy….Duhhh romantis deh… Jadi ajang gethek Vs sampan. Lebih keren dari Moto GP…

  6. latiphi says:

    Semarang tuh hrsnya lbh mengatur tata kotanya dulu…baru dech pny program SPA…
    klo msh sring banjir,mn bs jd kota wisata…
    donk…donk…donk…!
    trz…PKL-PKlnya dibuatin tempat sndri biar g’ ggu tata kota.
    oiya,,,sungainya dibersihin dunk,ben ra’ mambu… :-t

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *