Semarang City Walk. Sebuah Mimpi?

 

Usulan dari banyak pengamat, arsitek maupun pakar tata kota untuk membuat kawasan city walk di Semarang, khususnya di sepanjang Jl. Pemuda, Jl. Pandanaran dan Jl. Pahlawan adalah ide yang buagus banget. Meski realisasinya masih belum jelas karena tak ada tanggapan serius dari Pemkot Semarang, paling tidak sudah ada wacana yang digulirkan untuk menuai tanggapan dari masyarakat kota Semarang. Ini juga termasuk bagian penting dalam rangka menyusun kekuatan (opini publik) untuk mendesak Pemkot Semarang, agar mulai memikirkan tentang perlunya dibangun sebuah kawasan city walk di kota Semarang.

Mau pro atau kontra, silaken aja. Mau baku debat, ya monggo. Yang penting jangan baku hantam, baku maki dan baku-baku sejenisnya (baku_baka?). nDemokratis lah..

Bagi yang pro rencana tersebut, enaknya gimana? Maksudnya, bentuk city walk yang kayak apa yang sebaiknya dibangun oleh Pemkot Semarang?

Kalo menurut saya, ada 2 pilihan. Yaitu, city walk yang bebas PKL dan city walk yang memperbolehkan PKL dengan jenis dagangan tertentu untuk berjualan di situ.

Jika PKL boleh berdagang di atas trotoar di kawasan city walk, harus menggunakan gerobak terbuka yang seragam dengan desain yang menarik dan memasang nomor gerobak yang terlihat jelas. Adapun jenis dagangan yang sebaiknya diperbolehkan antara lain aksesoris fashion, koran&majalah, soft drinks, barang kerajinan, produk-produk khas Semarang dan makanan jadi (kue, roti atau jajan pasar). Lebih siip kalo ada yang jualan loenpia (nggak pake dot net).. 🙂

Bagi yang menjual rokok, atau aneka gorengan seperti pisang goreng dll tidak diperbolehkan berada di trotoar yang menjadi bagian dari city walk. Mereka bisa berjualan di belakang batas trotoar dengan menyewa lahan atau bangunan pada pemilik lahan atau bangunan di situ.

Meski PKL boleh berjualan di atas trotoar tersebut, tetap harus memperhatikan fungsi utama trotoar, yaitu sebagai tempat bagi pejalan kaki. Jadi, untuk trotoar yang sempit tetap harus bebas dari PKL. PKL juga wajib menjaga kebersihan dan keindahan di lokasi mereka berjualan. Jika keberadaan PKL bisa tertata dan teratur dengan baik, maka keberadaan PKL ini bisa menjadi suatu atraksi menarik dari sebuah kawasan city walk.

Trotoar di kawasan city walk juga wajib dilengkapi dengan pohon-pohon peneduh, bukan pot-pot besar seperti yang ada di beberapa trotoar di Semarang yang justru mengganggu kenyamanan para pejalan kaki. Pohon peneduh tidak hanya berfungsi untuk meneduhi pejalan kaki dari sengatan matahari, juga untuk mengurangi polusi, menurunkan suhu udara setempat, menyuplai oksigen dan memberi kesan asri di kawasan itu.

 

Kekurang pedulian Pemkot Semarang untuk menata kawasan kota khususnya tentang perlunya area untuk memanjakan pejalan kaki, memang patut disayangkan. Karena keberadaan city walk di suatu kota selain akan memberi citra sebuah kota yang berperikemanusiaan juga mampu untuk meningkatkan pendapatan kota tersebut. Mengingat para pejabat Pemkot termasuk Pak Walikota dan anggota DPRD Semarang banyak yang sudah pernah ke luar negeri, mustahil kalo nggak paham tentang hal ini. Tengok saja negara-negara di Eropa termasuk Eropa Timur, Amerika, Singapore dan Jepang. Pemerintah kota di negara-negara tersebut sangat memperhatikan kenyamanan para pejalan kaki.

Trotoar-trotoar di kawasan city walk di Jepang misalnya, umumnya menggunakan keramik anti slip yang ditata dengan cantik, dilengkapi keramik/plat beton khusus yang sangat berguna bagi para tunanetra. Ujung trotoar yang landai, nyaman untuk dilalui sepeda, kursi roda atau mobil mini elektrik yang biasa dipake para lansia. Sekedar tahu aja, seperti pernah dilaporkan Kang Asep BS (toekang loenpia dari Suara Merdeka), trotoar di Jepang juga dilalui sepeda. Cukup aman bagi pejalan kaki, karena penunggang sepeda di Jepang hampir tidak ada yang nyak-nyak’an atau ngebut.

Trotoar di kawasan city walk pun sering juga dilengkapi dengan bangku untuk istirohat para pejalan kaki. Malah ada pula yang dilengkapi dengan kran air minum. Lumayaan.. kalo haus nggak usah beli minuman. Ngirit..ngiriit..

 

Ada juga trotoar yang memanjakan para pejalan kaki dengan alunan musik yang dilantunkan melalui pengeras suara yang menempel pada tiang listrik/telepon.

Nah, dengan adanya tekad Pemkot Semarang untuk menjadikan Kota Semarang sebagai Kota Jasa, tentu aneh kalo hal beginian malah nggak diperhatikan. Untuk membangun image sebuah Kota Jasa, tidak hanya dibutuhkan keramahan warga kota, keramahan aparat birokrasi dan keramahan aparat penegak hukumnya saja, tetapi juga keramahan kota secara fisik yang ditunjukkan antara lain dengan tersedianya kawasan city walk, taman kota maupun hutan kota.

Coba bayangin, apa nggak enak kalo kopdar loenpia.net diadakan di sebuah hutan kota Semarang yang asri meski tak segede Central Park-nya Amrik sono atawa Banpaku Kin En Koen-Osaka maupun Ueno Koen-Tokyo. Terus abis kopdar kita jalan-jalan di kawasan city walk sambil potret-potretan juga potret beneran, terus nggak lupa window shopping,.. wuiih.. mengkhayal. Boleh khan ?

Demikian “jeritan hati” saya selaku warga Kota Semarang.. *halah..* yang mendukung usulan tentang Semarang City Walk. Smoga Pak Dosen Loenpia (Pak Sukawi) sebagai jagoan arsitektur dan tata kota juga ikut mendukung..  Gimana nyang laen?

From Shikoku With Love And Peace,

Masfiq

http://www.AsianNetBisnis.blogspot.com

27 thoughts on “Semarang City Walk. Sebuah Mimpi?

  1. lowo says:

    setuju mas..
    Terutama untuk kawasan simpang 5, mosok hampir seluruh trotoar di babat habis buat PKL. Pejalan kaki malah dipaksa jalan di area “jalan lambat (istilahe sing tepat opo yo?)”. Belum lagi jalanan depan trotoar (Simpang 5, Jl. Pahlawan, Jl. Gajahmada, dan sekitarnya) yang “dikaryakan” untuk parkir. Perasaan, kota Semarang soyo suwe kok banyak tukang parkir yo ? ups.. aku dewe ex-tukang parkir dink.. heheh.. (mbuh lah)
    ok.. ikut mendukung usulan Semarang City Walk
    (kok jadi inget pilem “A Walk To Remember” yo!)

  2. Taufan says:

    Ide Semarang City Walk sih oke. Paling memungkinkan dlm waktu dekat mungkin Pandanaran sama Pahlawan. Yg jd masalah adalah, suhu udara di Semarang yang ..panaaassseee poooolll. Kl bikin item, siapa yg mau jalan??? Tp kl ademnya kayak Jl. Indrapasta atau Kampung Kali sih oke …..

  3. zam says:

    sebuah gagasan menarik!

    memang permasalahan di Endonesa ini adalah birokrasinya yang kurang peduli. Ndak uah jauh-jauh berpikir ke sana, masalah PKL aja sampe sekarang belum terselesaikan dengan “manusiawi”..

    coba bayangkan, keberadaan mereka yang notabene mencari duit, digusur dan temaptnya dipakai buat mbangun MALL!!!

    PKL dianggep tidak memberikan “investasi”, sedangkan MALL? sebuah investasi buat siapa?

    yah.. begitulah.. keberadaan trotoar akan selalu dihiasi oleh PKL, karena apa? keberadaan PKL ini kurang diperhatikan. lebih sering digusur dengan cara yang tidak manusiawi..

    kalo menurut saya, kalo masalah PKL ini sudah bisa diatasi dengan baik, insya Allah keberadaaan city walk alias trotoar yang nyaman akan terwujud.

    sebagai contoh. dulu di kawasan Monumen 45 Solo, dijadikan sebagai pasar klithikan oleh para PKL. tetapi setelah para PKL ini direlokasi dengan cara yg “manusiawi” oleh Pemkot Solo, kawasana Monumen 45 ini menjadi suatu public space yang nyaman. Bahkan upacara 17-an kemarin diadakan di sini, bukan di stadion Sriwedari (R Maladi)..

    tetapi, itu semua tergantung dan berefek pada semua pihak.. tergantung mereka MAU dan BERSEDIA atau tidak..

    🙂

  4. BunSal says:

    jadi inget Mataram yg banyak pohon peneduh dan alhamdulillah ngefek..
    jadi, kalo pas gi bokek berat, dari kampus ke Mall yg – 5KM, bisa jalan kaki dijam brapapun…

    tapi, kalo diSemarang, apalagi yg dibagian bawah, apa efek pohon peneduh bisa maksimal?
    kalo dibagian atas. yakin ngefek deh [kadang, kalo gi mo ngetest otot betis, JJS ke ADA pun hayyoooo..]..

    eniwe betewe, usul MasFiq keren punya deh..
    jadi inget [persi ke2] satu kota di Papua, sudah ada yg nerapin satu prinsip dasar dari ide City Walk ini…bertebarannya pohon peneduh disluruh kota…tiang dan kabel listrik dan sbgnya yg tertanam rapi ditanah dan rumah2 asri tanpa pagar…payahnya, aku lupa nama kota tsb 😀

    stubuh deh ma idenya…ups, stuju denk…

  5. pepeng says:

    walopun bisa,itu mrtku susah…..!!!
    kalo aku pribadi seh….susah mau cr bensin ecer,rokok ecer,tambal ban,isi pulsa dll..
    tp,konsep itu bagus juga…tapi ga tahu kpn bisa.
    dan yg jelas, anggaran ga cmn sdikit…!!!
    lha wong nanggulangi banjir aja blom bisa kok….pie jal..??
    tapi,keren kok foto2nya..

  6. Gayatri says:

    usul yang bagus banget ya…aku aja sebagai salah satu dari ratusancalon arsitek di indonesia terus bermimpi kapan ita bisa seperti jepang yang sangat menghargai pentingnya pedestrian di jalan2 trus…kapan mau terealisasi coba?????kalo lembaga pemerintahan g pernah peduli sama pembangunan kota hanya rencana…rencana…rencana mulu……..

  7. masfiq says:

    Taufan:Itu sebabnya,maka pohon menjadi suatu keharusan bagi city walk.Kampung Kali bisa teduh karena ada pohon. Memang perlu waktu biar jadi gede. Tapi kalo tidak mulai nanem pohon sekarang, ya selamanya akan panas terus. City walk emang bukan proyek instant koq. Butuh waktu, butuh kesabaran. Jadi, lebih cepat dimulai ya lebih baik.

    Zam:Emang benar, PKL tidak semestinya di-“delete”, tapi ditata dan diatur. Ada yang boleh eksis di city walk, ada yang harus menempati lokasi yang disediakan Pemkot di luar area city walk. Di Jepun sini, PKL tidak ada yang di trotoar. Dan nggak ada yang berani ngeyel karena penegakan hukumnya jelas. PKL biasa berada di area supermarket, department store atau di shoutengai (area pertokoan/arcade). Seperti foto di atas.

    BunSal:Pohon emang bisa menurunkan suhu udara setempat. Bisa lihat postingan Pak Sukawi di blog beliau tentang hal ini. Soal efek maksimal sejauh apa sih saya juga belum paham. Tapi Singapore yang dulunya panas karena efek rumah kaca, kini teduh. Hasil dari proyek Taman Kota beberapa tahun lalu. Setiap lahan yang tak terpakai, ditanami pohon. Termasuk lahan yang ada di gedung-gedung perkantoran.

    Pepeng:Memang susah, tapi bukan secara teknis. Saya sendiri sering bilang “susah” kalo lagi males ngerjain sesuatu. Jadi,ini cuma masalah kemauan aja koq.Besarnya anggaran jelas relatif.Kalo emang gede, ya jangan pake anggaran dalam 1 tahun, tapi anggaran jangka panjang. Bisa juga melibatkan swasta dengan kompensasi tertentu yang tidak melanggar perda atau hukum. Khan kita bisa nyicil,tahap pertama nanem pohon dulu. Tahap kedua relokasi PKL, tahap ketiga baru mbangun trotoar yang cantik, tahap keempat PKL dengan jenis dagangan tertentu boleh jualan lagi di situ dengan gerobak khusus yang disedian Pemkot, dst..
    Pemkot Semarang saat ini sedang dalam proyek mengatasi banjir dengan sistem terpadu (hulu-hilir).Antara lain normalisasi sungai,dll. Proyek terbesarnya adalah pembuatan Waduk Jatibarang. Waktu yang dibutuhkan,beberapa tahun.. 🙁 Jadi, maning-maning sabaar.. OK? Tengkyu.

    masfiq

    http://www.AsianNetBisnis.blogspot.com

  8. boku_baka says:

    haduuhhh.. lagi-lagi Masfiq mingin-mingingi saya. :((
    ternyata dalam beberapa tahun kedepan ini saya belum bisa ke jepang. huhuhuhu.. yah.. 10 tahun lagi deh. hehehehe.. :d

    soal semarang city walk..
    hmm untuk bisa samapai ke tahap itu kan ada tingkatannya mas, kalau semarang saat ini langsung mau bikin city walk ya kayaknya susah.
    harus banyak yang dibenahi dulu.

  9. masfiq says:

    lho,lupa sama walikota semarang? mending saya, blass.. ora ngerti.. :d
    kayaknya walikota lebih suka YM daripada nge-blog..hi..hi..

    ya kalo bikin city walk belon bisa, gimana kalo nanem pohon dulu? misalnya nanem mangrove di sepanjang jl.pemuda diselingi nanem ganja atau nanem budi pekerti *halah..kacau*..

  10. paijan says:

    daerah kota lama yang mau dijadikan city walk, tepatnya di jalan merak sekitar polder mambu, ben mambu kabeh, ambune rak enak banget koyo tai diudek-udek terus dimbu, tenan aku rak ngapusi yen rak percoyo mbus2o dhewe..he ho he..

  11. Yudi says:

    sudah limabelas tahun meninggalkan kota Semarang merantau kemana-mana, tetep saja nggak bisa lupa Semarang (apalagi simpang 5 ngangenin!!). Apalagi kalo ada berita bagus tentang Semarang paling getol ngikutin termasuk rencana jalur busway and city walk. Gak usah jauh-jauh ke Singapura, kota Bandung Jabar wis ada city walk, asyik untuk jalan2. Semarang? Why not? pasti Semarang tambah ngangenin kalo ada city walk!

  12. Marco says:

    aku melu setuju ah, ketok e enak kalo semarang punya city walk kan iso mlaku-mlaku karo pacar’e ngirit ongkos sisan olah raga n cuci mata, tapi yen saiki iso-iso keliliban. wuakeh bleduk nda hee..

  13. antoni says:

    baru tau kl kumpulan cah2 semarang punya loempia.net
    siiipp..

    ngomong2 ttg semarang..tetep aja jd kotaku tercinta,kulo lahir n besar di semarang jd saya tetep ngedukung orang2 yg punya pemikiran hebat buat semarang, ga peduli siapa pemimpiny kelak yg penting beliau punya visi n misi yg jlas buat semarang.buat pemimpin semarang, ayo maju terus n ga usah di dengerin orang2 yg pesimis dgn ide2 anda.saya setuju dg Semarang Pesona Asia.meskipun itu berawal dr sebuah mimpi di siang bolong,namun saya ikut yakin kelak akan terwujud,yg penting ttp optimis n hindari korupsi n kolusi di segala jajaran instansi…bravo semarang!SELAMAT MENGGAPAI MIMPI

  14. ananta says:

    walah jadi inget semarang kota pertama aku menjadi orang pesan saya buat polda tolong pabrik chongyang
    ditutup supoyo pemuda di semarang ora memdem terus ,kapan menjadikan kota semarang menjadi citywalk kalau pemudane podo mendem terus .

    Suwun

  15. tiong han says:

    Ide yang briliant !!!!!!, but i think it’s difficult to realisasinya. Para Birokrat dan masyarakat semarang sendiri yang mentalnya belum bisa kaya di negara maju. jangankan mikir City Walk….mikir buat makan aja pada bingung semua……belum lagi duittttttnya dari mana man?????? kalo kasi ide yang realistis aja dech……, benahi itu struktur kota yang baik, kebersihan yang baik, kebersihan yang baik dll. Siapa yang berani taruhan ama aku , dalam jangka waktu 5 – 7 tahun kedepan tidak mungkin itu namanya City Walk terealisasi di SMG.

  16. masfiq says:

    tiong han : kayaknya bakalan kalah taruhan nih… 🙂

    Soalnya, Semarang City Walk saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Yaitu di Jl. Merak dan sekitar polder Tawang.
    Memang nggak se-“mewah” city walk di Jepang atau negara maju laennya. Tapi sebagai sebuah permulaan, itu sudah cukup bagus koq..

    Rencananya akan dilengkapi kios-kios untuk jualan jajanan khas Kota Semarang seperti yang di Jl. Pandanaran juga panggung kesenian dll. Semarang City Walk ini terkait dengan rencana pemanfaatan kawasan lama Kota Semarang untuk wisata yang denger2 investornya dari Jakarta.

    Kita tunggu aja ntar gimana jadinya. Smoga sesuai dengan yang dijanjikan. OK?

    Tengkyu

  17. Martin says:

    Halo,numpang aja nih. Rasanya tahun lalu balik ke Semarang (setelah 3 tahun):(, bukannya tiap weekend malem di daerah Chinatown/Gambiran jadi daerah pejalan kaki? (namanya aku lupa) Itu bukan rencana pemerintah kota Smg ya?

    Moga2 nanti aku kalo balik Indo lagi, Smg City Walk dah jadi, lengkap dengan bis patas AC, hehehe.

  18. calon_arsitek says:

    numpang ngisi yach guys….

    City Walk??
    Emang mo dbikin bener?
    jgn2 ntar duitnya buat Bal-balan maning…
    pak Wali…
    Rakyat Jelata kayak saya lebih suka City Walk drpd PSIS yg skr gbs kita banggakan…

    skalian sungai disamping Lawang Sewu dbikin WaterFront ja.. kayak yg di Italy sono….
    jadi kan sungainya gak kotor lg, trus bs jd tempat bwt refreshing….
    dan tempat bwt pacaran…

    mosok cah Semarang nek pacaran do neng Marina…
    meh pacaran neng Wonderia yo wes rak pantes…

    moga2 duitnya bwt bikin CityWalk ja…
    jgn buat maen bola mulu…

  19. anak arsitek undip says:

    kalo da temen luar kota datang ke smg, mo di ajak jaln2 kmn ya..?Mall..?wah, di jakarta banyak katanya..ke pantai,..?temen saya dari bali, jadi pantai dah biasa..ke gunung..?yee,..emang gw orang gunung..haha..KOTA LAMA,PECINAN…?wah, itu yang kagak ada di kota lain..yaps.,itu khas semarang.LITLLE NETHERLAND,kl kota lama di pugar lagi,..wah,itulah yang namanya city walk ala semarang..kalahin cihampelas yang adem, citos yang canggih bahkan universal city walk di hollywood jg gak bisa di bandingin dh..kalo boleh kasi ide,seluruh kawasan kota lama di pugar lagi,di tata ulang,dengan konsep2 urban design yang menarik..jgn di pikirin soal robny, puaannasnya atau apalah..kita punya temen2 konstruksi yang handal koq..hayoo,temen2 engeneering,atasi masalah itu.bangunan yang bagus2 itu di gunakan sebagai area komersial,area city tanpa kenderaan!!!bila perlu bangun mall, apartement, bank, toko2 sampe PKL.jadilah sebuah mixed use yang elegant,tapi punya karakter,.mudah di kenal sebagai LITLLE NETHERLAND.ets..sekali lagi,..JANGAN MENGUBAH CITRA KOTA LAMA,MELAINKAN BANGUN CITRA ITU MENJADI BERNILAI.soalnya sekarang gak bernilai sich..ups,..lihat aja,ikan bakar cianjur,.dapat di jadiin contoh tu,.eh,tapi LUMPIA SEMARANGnya mana..hehe.kl aq jadi arsitek,aq bakal bujuk investor buat nanam modal, buat mall,pedestrian ways, atau retail yang berpola city walk di kota lama ini.aq namain projectnya “Litlle netherland city walk”..keren kan.:d/ mohon bantuan temen2 yang cinta ama semarang ini ya.(ups,..padahal aq bukan semarang asli lho..cuma numpang kuliah doank..tp,I LOVE SEMARANG VERY MUCH ):x

  20. matek_undip says:

    Assalamu’alaikum..
    salam kenal,aku ira mahasiswa matematika Undip. aku lagi buat skripsi berkaitan dengan kota lama,hubungannya dengan matematika apa ya?? wis gak usah dipikir.. aku minta tolong, aku lagi butuh peta kota lama yang lengkap dengan nama jalannya. plisss butuh banget ni,,dah nyari2 tapi gak ada yang lengkap.
    thanks be4 ya..

  21. ag.argank says:

    kawasan jl. pandanaran harus ada upaya untuk konservasi hal ini merupakan usulan yang deskriptif bagi PEMDA setempat untuk dpt mengembangkan SPA, seprti konsep citywalk, neo vernacular atau modern sgt bagus u/ kawasan trsbt.
    Semarang harus berkembang kalo tdk tentunya perilaku manusianya akan sgt tidak berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *