:)

Dosen saya, pak Berlian pernah mengeluhkan perihal sulitnya menemukan orang dijalan, dengan senyum menghias bibirnya. Saya sendiri sebenarnya juga menemukan fakta yang demikian, tapi kok ya saya tidak merasakan akan fenomena itu ya? Jangan-jangan saya lah salah satu orang yang Pak Berlian keluhkan itu.

Saya tidak tahu apakah ini hanya terjadi di sini (jakarta), atau juga di tempat-tempat lain. Tapi saya yakin, di sinilah TKP yang terparah. Kalau anda sekarang tinggal di jakarta, cobalah keluar ke jalan sebentar. Pandangilah orang-orang yang sedang diam (dalam arti tidak sedang melakukan percakapan). Amatilah, … apakah anda temui emoticon titik dua kurung buka di wajahnya atau sebaliknya; titik dua kurung tutup. Sad but true. Kalau anda sering naik sarana angkutan umum, baik itu metromini, bus, kereta api. kapal laut, kereta api, cobalah sekali lagi amati penumpang-penumpangnya yang sedang kelelahan, sedang berdiri, sedang ketiduran, sedang menerawang…, saya yakin wajahnya kelihatan sumpek semua.

Sebenarnya, itulah cerminan dari kualitas hidup bangsa kita (demikian, masih yang pak dosen ceritakan). Untuk mengetahui bangsa seperti apa, sebenarnya dapat langsung terlihat di jalanan. Sekarang, terlalu sulit untuk bertanya arah kepada seseorang yang ada di jalan, sementara kita sangat membutuhkan sekali informasi tersebut. Juga terlalu banyak penyimpangan-penyimpangan dapat kita temui di jalan… (semua juga sudah tahu).

Oleh karena itu, mari kita hiasi wajah kita dengan senyum, dengan semangat yang bersahabat. Harusnya pemerintah mengeluarkan regulasi untuk menggalakkan senyum. Bila diperlukan tetapkan program satu minggu penuh senyum. Bila perlu juga dibuatkan Undang-undang. Bangsa ini sepertinya sedang krisis senyum. Semua orang perlu semangat hidup, perlu berpartisipasi dalam memberikan inspirasi dengan indah. Jangan bilang orang yang senyum dengan terpaksa tidak ada gunanya (senyumnya maksudnya). Saya percaya, senyum, wajah yang berseri-seri (meskipun ngga cakep, dan nggak ganteng) dapat membuat sesuatu menjadi lebih baik.

Bukankah demikian? ….. *jreeeeng (sedang senyum nih…)
🙂 🙂 🙂

3 thoughts on “:)

  1. pepeng says:

    wah…bener banget tuh,bbrp waktu aku juga kepikir hal trsb, bahkan nuansa sangat terbalik bila kita tengok dan jalan ke bali/denpasar…Nuansa senyum disana sini….Contoh,saya juga gak repot2 untuk mencari suatu alamat rekan saya…cukup berbekal senyum dan terbukti lho….Coba di jkt..????

  2. rista says:

    AKU SELALU SENYUM KETIKA DI FOTO :d

    KLO DI JALAN SENYAM SENYUM SENDIRI TAR DI KIRA EDAN PIYE JAL ??? :-\

    KLO DI SINI SENYUM AJAH AH….. :):):d:>;;)

    GAK DI KIRA EDAN THOOOO…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *