Ketika Anak Semarang Menginjak Sabang

ketika mendengar kata Sabang, yang paling cepat terlintas dalam benak kita adalah lagu berujudul Dari Sabang Sampai Merauke yang entah siapa penciptanya. hal itu jugalah yang terlintas di kepala saya ketika Etty mengajak saya main ke kota di ujung barat Indonesia itu. antara penasaran dan ragu juga karena perjalanan yang di tempuh lumayan panjang dari Semarang dengan harga yang tidak murah dan waktu yang tidak terlalu banyak karena kewajiban saya pada anak anak didik saya setiap sore yang hampir ujian membuat saya dan dia membicarakan dan merencanakan perjalanan ini dalam beberapa kali chat, email, sms, telephone dan akses komunikasi apapun yang bisa kami gunakan dengan cepat di sela sela kesibukan masing masing.

Setelah diskusi panjang akhirnya saya dan eyang berangkat juga ke Banda Aceh tanggal 13 April lalu. perjalanan yang tak terlalu panjang tapi harus diakui cukup menakutkan karena ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat dan menakutkan pula untuk keluarga saya terutama ibu mengingat beliaulah yang hoby nonton berita kecelakaan transportasi yang sedang sering terjadi. but thank’s God perjalanan selama 7 jam itu berjalan dengan sukses.

view dari pesawat

sampai di ibukota NAD kami sudah di jemput Etty di bandara Sultan Iskandar Muda. dari bandara kamu mampir untuk membeli makan malam baru kemudian tancap gas ke rumah etty di daerah Peuniti. beberapa hari kami jalan jalan berkeliling di Banda Aceh dan melakukan apa yang di sebut Etty “disaster tour” alias melihat sisa sisa tsunami dan tentu saja melihat berapa banyak yang sudah di bangun kembali oleh para NGO hampir dari seluruh dunia (dan tentunya melihat bentuk nyata dari apa yang dilakukan BRR dan secara tidak sadar membandingkannya :P)

setelah seminggu di Banda Aceh dan seseorang datang hari kamis sore kami berempat (saya, Etty, Eyang, dan someone) berangkat dengan sebuah fery menuju pelabuhan Balohan, Sabang. di Sabang kami menginap di sebuah hotel bernama “Santai Sumur Tiga” (sumur tiga adalah nama pantai di kawasan ini) dan ternyata hotel itu berada tepat di tepi pantai dengan nuansa natural yang kental dan yang terpenting view yang indah. yang unik dari pantai ini adalah kita tidak hanya bisa melihat sunset saja tetapi juga sunrise yang tidak kalah bagusnya.

sunset pertama di pantai sumur tiga

Hari pertama di Sabang kami habiskan untuk jalan jalan. tujuan utama adalah sebuah tempat yang dikenal dengan nama kilometer zero (Km 0).

pose sebentar di depan tugu Km 0

di titik inilah diyakini ujung paling barat Indonesia yang ditentukan dengan perhitungan garis lintang dan garis bujur. di titik ini didirikan sebuah tugu yang juga disebut Tugu Km 0 dan diresmikan oleh BJ Habiebie saat beliau masih menjabat sebagai menteri IPTEK. konon dulunya wilayah ini merupakan daerah militer dan siapapun yang masuk harus meninggalkan tanda pengenal, namun sekarang kita sudah bebas keluar masuk wilayah ini (mungkin saking terkenalnya jadi petugasnya capek mintain id card).

Satu hal yang menarik dan agak aneh di tugu ini adalah tidak seperti tugu atau menara yang merupakan landmark suatu daerah, tugu ini tidak punya teropong pengintai dan menara yang tidak cukup tinggi. ini membuat feel berada di ujung barat Indonesia menjadi kurang terasa. tapi tetep dong secara dua dari empat orang yang berada disana adalah blogger sesi foto foto pantang dilewatkan. setelah puas berfoto foto ria perjalanan kami lanjutkan untuk makan siang di daerah pantai lain yang disebut Gapang. sambil menunggu makanan yang sudah dipesan kali ini saya memutuskan untuk sedikit bermain air dan pasir putih yang menjadi ciri khas pantai di aceh dan sabang. Enak rasanya menikmati lembut dan hangatnya pasir putih dan air laut yang benar benar bening hingga memungkinkan kita melihat dasarnya.

Setelah puas main air dan kenyang, kami melanjutkan acara jalan jalan ke pantai lain yang disebut Iboih. kali ini misinya tidak hanya main air tapi juga melihat keindahan taman laut rubiah yang terkenal itu. setelah sedikit negosiasi akhirnya kami berkeliling taman laut dengan perahu khusus berdasar kaca. meskipun sudah banyak yang hancur oleh aktivitas memancing dengan bahan peledak dan terutama karena tsunami, taman laut itu tetap bisa menampilkan keindahannya.

terumbu karang di pantai rubiah

Week end di Sabang, saya sendiri menghabiskan waktu dengan main di laut dan tidur siang di hotel sementara yang lain menyempatkan diri jalan jalan di pusat kota sabang. menikmati mandi di laut di bawah sunrise ternyata menyenangkan juga. setidaknya bagi saya. aktivitas ini dipotong acara breakfast yang disediakan oleh hotel. setelah breakfast saya dan Etty kembali main air dan kali ini belajar snorckling. tidak sesulit yang saya bayangkan sampai akhirnya harus pakai sepatu katak. berat banget bo’ dan gak bisa bergerak bebas. tapi lumayan juga sih setidaknya pernah mencoba.

Bagi saya ini jelas pengalaman yang serba baru dan serba berbeda. yang jelas terasa berbeda adalah karakter pantainya yang bebeda dengan karakter pantai di semarang. suasana pantai di sana juga jauh lebih indah, lebih nyaman untuk bermain, dan (hmmm) lebih …… romantis kali ya. he he he

NB: akhirnya bisa pakai flickr. maaf kl sebelumnya fotonya segede gambreng.

18 thoughts on “Ketika Anak Semarang Menginjak Sabang

  1. teresa says:

    akhirnya…posting juga ya….wis, ndang cepet photobucket-nya diberesin, biar nongol fotonya…

    Btw, kemarin ada foto2 print out dari kamera analog, alias pake film….WOW with a big O deh….foto sunset pertma yang dibikin dalam kegelapan sampe fotografernya ndlosor2 ternyata keluarnya emang okeh punyak…

  2. sukawi wijaya says:

    wa… asyik tuh bisa sampe sabang.
    Akhir tahun 2006 kenaren saya sampe aceh tapi langsung ke nias untuk ikut programnya UN Habitat dan UNESCO dan lumayan bisa disana selama 2 bulan.

  3. misisawa says:

    Sabang????

    tak kirani Jakarta pusat jalan Sabang iku.:d Wuihh.. asyik tuh bisa jalan2 sampe ke ujung timur Indonesia..:-“

  4. Nev says:

    jangan salah, semarang juga punya pantai yang romantis… tiap minggu pagi banyak tuh anak2 loenpia yg ke sana 😀

  5. teresa says:

    akhirnya nongol juga picnya

    <:-p tp kyknya emang gede ya? *meskipun ga mslh dr sini :-" km milihnya tetep, foto narsis, hehe...eh, "courtesy of" loh fotonya...jangan lupa jeng... [-x hehe...have a nice weekend...~o)

  6. sesy says:

    temen2 maaf ya kl foto yg ditampilkan adalah foto narcis secara saya sudah ketularan virus narcis blogger semarang jadi ya gmn ya. he he he

  7. emelie santamaria says:

    I am looking for an old friend whose name is Aryanto “UYUNG” Habiebie, perhaps he is a doctor by now. He used to study at the University of Indonesia about ten years ago when we were medical students. Maybe someone can help me get in touch with him please.

    Thanks. tree ma ka si.. that’s one of the few indonesian words that i learned when i went to Jakarta and Yogyakarta in 1996.

  8. pipi bismedi says:

    hi emelie, i know uyung.. he was my senior when we’re in fkui about 10 years ago.. right now he’s a plastic surgery resident in rscm..if you want to contact him you can email to zplasty@ yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *