Alun-alun Semarang Tinggal Nama

Alun-Alun Semarang tahun 1935

(alun-alun Semarang tahun 1935 dengan latar Masjid Besar Kauman)

Alun-alun (Jw : aloon-aloon) merupakan rancangan pusat kota tradisional asli Indonesia yang pada awalnya adalah konsep perkotaan masa kerajaan Hindu Majapahit. Banyak diduga bahwa alun-alun di keraton Islam merupakan turunan dari konsep alun-alun pada masa Hindu. Banyak yang belum mengungkap bahwa revolusi agama atas kedatangan Islam telah mengubah konsep alun-alun peninggalan Hindu.

Konsep alun-alun menurut Islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jamaah dan merupakan halaman depan dari keraton. Siar Islam telah membawa perubahan dalam perancangan pusat kota, sehingga alun-alun, keraton dan Masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya terdapat jalur transportasi dan perdagangan (sungai) sehingga mudah dicapai dari jalur transportasi maritim saat itu.Kali Semarang yang pada awalnya merupakan dasar pembentukan embrio kota Semarang, kini telah ditinggalnya karena tenggelam dengan perkembangan sistem transportasi. Kali Semarang kini hanya merupakan cerita lama.


Alun-Alun Semarang tahun 1920

(alun-alun semarang tahun 1920 untuk upacara militer)

Sistem setting kota-kota Jawa pada umumnya mempunyai bentuk dasar yang hampir sama, yaitu selalu dibentuk dengan adanya alun-­alun dengan dikelilingi pusat pemerintahan dan masjid besar. pada masjid besar tersebut, biasanva selalu dikelilingi rumah-rumah tinggal yang kemudian disebut dengan nama kampung Kauman.

Dimulai tahun 1938, Alun-alun Semarang dipenggal pada sisi Timur oleh Belanda dengan Pasar Johar untuk menggantikan embio perdagangan yang ada sebelumnya di bawah pohon Johar. Berikutnya di tahun 1970an masyarakat Semarang terhenyak oleh pemotongan lahan alun-alun untuk bangunan perdagangan. Bangunan Kanjengan (pemerintahan) di sisi Selatan alun-alun telah dirobohkan dan dibangun pertokoan. Kawasan alun-alun yang lain didekat pasar Johar berdiri pasar Yaik Permai. Sedangkan di alun-alun Utara (bekas terminal angkot) berdiri gedung BPD dan Hotel Metro. Sekarang hamparan aloon-aloon telah hilang dan tinggal Masjid Agung Kauman yang menjadi tonggak terakhir pelestarian kawasan budaya ini.

Bagaimana kawasan Alun-alun (ruang terbuka) bisa hilang? Kiranya hal ini menjadi pelajaran berharga, karena kawasan ini telah kehilangan makna tradisionalnya sebagai pusat kota yang bercirikan tradisional. Hilangnya alun-alun dan Kanjengan di sisi selatan yang merupakan ciri alun-alun tradisional telah hilang oleh kekuatan kapitalis perdagangan. Banyaknya pasar yang berdiri di Alun-alun adalah bukti potensi ekonomi strategis kawasan ini sangat kuat, walaupun pasar Johar penuh dengan permasalahan. Mulai dari banjir, rob, banyaknya PKL, kemacetan lalu lintas dan yang terakhir dianggap oleh investor sebagai bangunan yang sudah tidak layak dan akan diganti dengan trade center.

Di seluruh Jawa, alun-alun Semarang merupakan satu-satunya alun-alun tradisional (pusat kota) yang hilang dan kalah bersaing menghadapi serbuan kapitalis perdagangan. Rencana pengembalian alun-alun yang merupakan angin segar munculnya ruang terbuka di kawasan budaya juga tinggal kenangan. Sekarang anak cucu kita hanya mendapatkan Alun-alun yang tersisa, hanyalah sebuah nama jalan diantara pasar yang semakin kumuh, yang sudah tidak ada papan nama jalannya. Jika mereka ditanya dimana letak alun-alun Semarang, semua serempak menjawab ’Simpang Lima’. Ah…betapa sedihnya.

35 thoughts on “Alun-alun Semarang Tinggal Nama

  1. sapi says:

    err…disatu sisi, simpang lima yang (sepertinya) diharapkan menggantikan posisi alun2 lama, sekarang pun sudah semakin kelelahan dengan fungsinya, ruang terbuka yang terhimpit oleh pusat perbelanjaan dengan papan reklame segede gaban dan hiruk pikuk kendaraan bermotor tanpa adanya pohon peneduh tentu bukan tempat yang menarik untuk jadi wisata keluarga. Lebih menyedihkan lagi peralihan fungsi taman KB untuk tempat konser2 dengan memakan jalur jalan. Atas nama hiburan? ah, yang benar saja…

  2. Ricky says:

    Yup benar,
    kadang alun-alun yang berada persis didepan Masjid besar Kauman itu malah menjadi tempat parkir.

    Akankah Kawasan Kota Lama juga akan hilang lantaran deket Johar?

  3. alfin syauqi says:

    :o:-?:d
    mari saya jelaskan…
    1. kok simpang lima alun2..kerajaane mana?
    2. emmm mungkin citraland dibangun diatas puing2 kerajaan kali..
    3.hehehehee…sotoy banget sich.

  4. nabila says:

    ooh,,gitu ya.
    ya sih,,bapakku srg bilang klo pusat kota yg sbenernya tu ya di daerah yg disebutin mas sukawi di atas itu..

  5. Nico kurnianto says:

    Ya saya juga ikut prihatin, saya juga sering ke Semarang dan membanggakan kota yang satu ini. Tetapi ketika saya pergi ke stasiun ternyata ada juga yang membuat saya prihatin yaitu kebersihannya dan gedung tampak kurang terawat, padahal termasuk gedung kuno yang memiliki gaya arsitektur yang khas. Apalagi banyak preman di dalamnya, ah mana pesona Asia nya ya?

  6. masfiq says:

    Tengkyu atas info yang berharga ini.

    Saya usul, gimana kalo dibikin satu tempat di Blog ini untuk menampung foto-foto “jadul” Kota Semarang?

    Bisa buat nostalgia Mbah-mbah kita saat nemenin kita di warnet..
    :d

    Juga bisa buat nambah pengetahuan kita-kita…

    Matur Tengkyu

    From Semarang With Love and Peace

    Masfiq

  7. kian says:

    wuah..postingane bagus…

    malah kepikiran ma Jakarta yg lahannya abis tuk gedung (entah kantor, rumah, or mall) yg akhirnya jadi banjirrrrrr…..kurang daerah serapan air

    Semoga tanah di semarang tak menghilang…biar banjir ga separah di…*eh semarang tiap ujan banjir juga ya*…aduh2…

  8. Niff says:

    Ternyata sistem kerajaan dulu dan pemerintahan belanda lebih bisa menata semarang daripada pemerintahan sekarang ini.
    jika belanda bisa melanjutkan penataan kota yg telah dilakukan oleh kerajaan dahulu. perintahan kita kini malah menambah semrawut.
    dulu semarang adalah ibukota indonesia dg kota lama, kota atas, lawang sewu, pasar johar. jika inget itu jadi kasihan pd dr kariadi dkk yg telah ikut berjuang utk kota semarang. karena generasi setelahnya telah “membajak” kota ini…

  9. shugy says:

    hemmm…aku kangen dengan GOR yg dulu dekat alun-alun simpang lima… tp sekarang sudah jadi Mal Ciputra.hiks…hiks…:((

  10. Mardies says:

    Oh ya, dulu pas datang untuk kedua kalinya ke Semarang sempat kesasar. Ternyata Kauman itu bukan di sekitar Simpang Lima. Ternyata Kauman malah dekat pasar Johar. Jebule tempat itu dulu alun-alun, ya?

  11. sesy says:

    sory, cm ingetin, kynya kt punya semarangan.loenpia.net kan? apa dah g aktive lagi ya? hal2 ky gini kan bagus buat ngisi blog kt yg satu itu, meski aku mengakui kl di blog yg ini traficnya bisa lebih tinggi jg.
    btw, aku malah g tau kl simpang lima itu bisa di sebut alun2, dr jaman cilik yg namanya alun2 aku taunya di depan mesjid kauman.

  12. ArdS says:

    wah kangen juga sama semarang tempo doeloe.
    sekarang sudah sangat krodid n semrawut.
    kalo saja kemajuan bisa dihentikan, hanya semarang saja yg ingin dihentikan dari kemajuan yg tanpa wawasan.
    semarang tidak lagi humanis dan naturalis

    ayo hijaukan semarang lagi, biar tambah teduh dan mendukung program dunia untuk mengurangi emisi buangan karbon.
    Perduli dengan bahaya global warming yuk

  13. titus says:

    Kembalikan alun-alunku pak Kawi (Walikota)
    Johar sudah kelelahan jadi penyangga ekonomi utama…
    Jadikan kawasan itu jadi kawasan budaya seperti Jogja dan Solo dengan Alun-alunnya…
    Jangan paksakan membangun Mall di kawasan ini…
    Sungguh… kalo Johar bisa bicara…
    pasti dia akan mengeluh…
    ‘Kapan kami boleh pensiun pak? Kami hanya ingin mengajari anak cucu kami bagaimana seharusnya mengatur kota yang sudah semakin tua dan renta ini’

  14. Dh1ka says:

    Kok bisa Simpang Lima jadi pembandingnya?:-?
    Sekarang itu Simpang Lima sudah tempat sumpek yang benar-benar tidak nyaman, tapi bagaimanapun Di Semarang saat ini memang sudah tidak ada tempat yang lapang lagi.
    Lha wong kuburan saja sudah sesek cari alun-alun keren kayak zaman kerajaan dulu.
    Mari bermimpi sama-sama kembali ke zaman dulu…:-“

  15. achy says:

    halo aku warga baru, kenalan dong…

    pokoknya aku setuju sama pendapat2 di atas, makanya aku milih tinggal di tempat agak tinggi, eh…. ternyata tempatnya lama-lama sesak juga /:)

  16. sasmoko says:

    Alun2 Semarang kan kauman to???bukan simpang lima….simpang lima kan mulai rame jaman ono GOR (ayo sapa yg inget)..eh iya jare mau di balikan lagi ya fungsi alun2 di kauman…trus pedagang nya mau di gusur…bener ga???dah lama gak ke sana ik….rindu akan kauman

  17. susiswo says:

    aku isih kelingan banget gek tahun 1960 dijak mlaku-mlaku ning dugderan karo bapakku tuku jipjipan sing ono wonge pm jipe warnane putih alun-alun karo stanplat bis(terminal bus) cedak karo masjid kauman pasar ya’ik. jaman cilikku manggon ing wonodri kebondalem mlebune soko seketeng baperki ono pabrik kacang,th.1961 aku pindah ning gayamsari kepoh. sak ngertiku stanplat bis terus pindah ing tegalwareng cedak bonbin jane ngono kepingin crito semarang luwih akeh tapi kok ora cukup karo kolome, sopo wae sing arep nambahi monggo !

  18. susiswo says:

    nuwun sewu dik kunto nembe saged mbikak wekdal meniko,alun-alun inggih ingkang dados ya’ik permai.mboten supe kulo aturaken sgeng warso enggal 2010

  19. susiswo says:

    nuwun sewu dik kunto nembe saged mbikak wekdal meniko,alun-alun inggih ingkang dados ya’ik permai.mboten supe kulo aturaken sugeng warso enggal 2010.

  20. Faril says:

    kmaren setelah ada konsultasi antara para pengurus Masjib Agung, pak Soemarmo berjanji akan segera memindah pasar Yaik dan mengembalikan alun-alun yang ada di depan Masjid Kauman, meski hanya kecil..
    tapi lumayanlah untuk perkembangan berikutnya. Semoga orang-orang Semarang ketika ditanya, mana alun-alun Semarang? “ada di depan Masjid Kauman, tapi di sana nggak ada gedung pemerintahan, adanya Masjid sama pasar”

  21. susiswo - banten says:

    Asswarwab, kapan bisa terrealisir Mas Faril ! biar kecil bisa untuk ingatan bahwa disitu( ya’ik ) dulunya Alun-alun, bisa untuk dugderan juga.

  22. david says:

    sekedar info saja:pasar ya ik adalah kumpulan dari orang tahanan militer/copet/maling yg dijadikan satu dan dibuatkan tempat untuk berdagang..pendiri pasar ya ik adalah bpk.wiryo sukarto dengan pangkat terakhir serka,alamat;jl.kranggan RT02/RW02 kartasura,surakarta…penulis ini adalah cucunya…ya ik;arti dari bpk wiryo yg setelah menembak mengenai sasaran sering mengucapkan kata…yak…ik….

  23. tok-roes says:

    Aloon-aloon “layangan” dibuat VOC ketika Alun-Alun Jawa yang bentuknya bujur sangkar masih eksis di tepi barat dari Kali Semarang, di Timur kompleks Kanjengan. Perluasan menjadi Oud Stadt oleh VOC tahun 1741, dilanjutkan penjebolan dinding barat. Keberadaan VOC sudah sangat dominan setelah Geger Pacina berakhir, maka berani membuat Aloon-aloon yang lebih besar (mungkin sekitar 1756), apalagi bupati Semarang blasteran Cina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *