Google Chrome: Browsing Seperti Tanpa Browser

Google Chrome. Pendatang baru di Dunia Web Browser. Sejak hari kemaren, siGoogle sudah mengumumkan mo merilis Web Browser barunya ini. Dan sejak kemaren [Selasa, 2 Sept 2008] pula diriku sudah nggak sabaran mo menyantap Browser ini, Gak papa walau bulan puasa pun, pokoknya dah napsu mo ngelahapkarya Google yang baru ini.
Pagi ini, begitu nongkrongin PC di kantor,  aku langsung buka rss reader untuk berharap semoga ada news terbaru tentang Google Chrome ini. Buka2 satu-persatu web yang udah aku syn rssnya, dan begitu ketemu ma link yang aku maksud, langsung aja aku santap satu-persatu beritanya, jelajahi sumbernya, donlod programnya, Install dan….. Toweng…. akhirnya Aku bisa ngereview sendiri Google Chrome ini… 

Kesimpulan :
1. Web Browser ini Teringan dari Web Browser yang pernah aku coba sebelumnya ! 
2. Browsing dengan Google Chrome seperti Browsing Tanpa Browser
3. Bahasa yang digunakan untuk UI, adalah Bahasa Gaul ! [Gokil]

4. Help yang mudah untuk dipahami dan dimengerti. Bahkan untuk newbie sekalipun.
5. Pengenalan Fitur dalam bahasa Indonesia, sehingga memudahkan pengguna dapat mengerti dan menggunakannya..
6. Walau Versi Beta, Google Chrome Maknyus. Temukan dan Explore sendiri semua Fiturnya !

Kekurangan :
1. Installer Google Chrome bersifat online, jadi yang pertama didownload adalah lounchernya aja [kayaq insall YM] 2. Middle Mouse Button untuk scrool halaman web keatas-bawah tidak berfungsi pada Google Chrome

3. Walau dah default Memakai Bahasa Indonesia begitu install, namun masih lucu juga. lihat ini:

Langsung aja nih dia screncapturenya :

*posting pake Google Chrome Loh…

13 thoughts on “Google Chrome: Browsing Seperti Tanpa Browser

  1. kian says:

    iya aku dah nyoba…hmm ringan ya..kalo penampilan mirip ma ie9 ya…thx infione dey..walo saya lebih dulu tau dari milis…btw thx

  2. Ahmed dee Nejad says:

    Mem Usage di Process Task-nya lebih kecil daripada firefox.
    Lumayan Nih…
    Alternatif web browser.

  3. Lex dePraxis says:

    Saya agak telat satu hari memakai browser teranyar yang sedang menarik perhatian dunia ini. Dirilis tanggal 2 September kemarin, saya baru mengunduh dan meng-install-nya sehari setelah itu. Cukup menarik sekali untuk melihat software yang masih versi beta ini sudah mampu mendukung berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, walaupun masih terasa aneh dan konyol (bayangkan saja, ada sesuatu yang diberi nama ‘Di bawah terpal’ !!!).

    Sepintas pada visual, ini adalah browser dengan tampilan yang sangat minimalis dan menawan. Saya nyaris tidak bisa melihat tombol atau gambar apapun yang terserak di interface / antarmuka-nya yang berwarna biru langit tersebut. Sepertinya Google benar-benar serius dengan komitmen mereka untuk memberikan keunggulan dalam kecepatan dan ketepatgunaan. Saya sedikit perlu penyesuaian ketika melihat tampilan tab yang agak nyeleneh dibanding dengan browser lainnya, tapi dalam lima belas menit saya sudah jatuh cinta dengan tampilan Google Chrome.

    Sayangnya keunggulan penampilan tersebut masih belum dibarengi dengan kelengkapan fungsi yang memadai. Misalnya saja pada engine blog wordpress saya, http://hitmansystem.com/blog , tidak bisa menampilkan visual rich-text editor. Yang dimunculkan adalah box teks yang perlu di-edit secara html manual atau copy-paste dari dreamweaver atau software sejenisnya.

    Saya pikir, Chrome sangat memerlukan kekuatan komunitasnya untuk menciptakan plugins yang membuat para peselancar dunia maya menjadi kasmaran berat dengannya. Seharusnya tidak perlu waktu lama untuk mereka mulai mengembangkan plugins itu atau istilah mereka ‘gears’ tersebut, tapi saya juga tidak terlalu yakin Chrome akan mengantisipasi banyak gears karena tujuan utama mereka adalah keringanan dan kecepatan.

    Selama ini saya adalah pengguna browser Maxthon yang menurut saya pribadi sangat memuaskan dari segi keringanan, kecepatan, dan keluasan fungsi. Bergantian dengannya, saya juga masih memakai Firefox untuk keperluan mengakses situs yang kaya akan AJAX dan fungsi-fungsi skrip dinamis lainnya (seperti Facebook, Google Reader, atau Meebo) karena di Maxthon hal tersebut masih kurang terakomodasi dengan baik selain perlu loading yang lama. Kehadiran Chrome sepertinya yang serba cekatan menangani skrip sepertinya merupakan penyatuan yang sempurna dari Maxthon dan Firefox. Terbukti saya yang sekarang sudah uninstall Firefox, tertinggal Chrome sebagai default browser yang disusul oleh Maxthon sebagai alternatif yang sampai sekarang masih sulit saya tinggalkan. Perlu waktu yang lama bagi saya dahulu untuk memutuskan pindah dari Firefox ke Maxthon. Ketika saya melihat Chrome, hanya perlu waktu beberapa jam saja.

    Sekalipun demikian, Chrome sepertinya tidak begitu dianjurkan untuk mereka yang menggunakan internet dengan bandwidth terbatas karena sampai saat ini tidak bisa memblok atau menonaktifkan gambar-gambar yang biasanya menyedot resource bandwidth. Akibatnya, berselancar dengan Chrome akan menghabiskan biasa yang cukup besar. Situs-situs populer di Indonesia seperti Detik.com, Kaskus.us, HitmanSystem.com, Okezone.com, ataupun manca negara seperti MSN.com dan BoingBoing.net memiliki begitu banyak materi gambar yang akan terasa merampok peselancar yang menggunakan dengan limited bandwidth.

    Bagi saya, ada dua fitur yang paling menarik dari Chrome. Yang pertama adalah Incognito Window. Ini adalah ide mungil yang cukup cerdas; saya sangat terkejut Google mengantisipasi kebutuhan ini dengan serius, sampai-sampai dimunculkan sebagai mekanik tersendiri dalam browser mereka. Fitur kedua adalah Omnibox yang membuat segala sesuatunya lebih singkat dan lancar. Jenius!

    Google telah menyewa seorang komikus untuk mengerjakan komik pendek yang bisa dibaca di sini. Saya adalah penggemar Scott McCloud lewat karyanya Understanding Comics, jadi saya memiliki harapan yang tinggi untuk hasil kerjasamanya dengan Google ini. Sayang sekali, komik Chrome tidak berhasil memuaskan harapan tersebut, karena penyampaiannya yang masih terasa kaku, prematur dan tidak serius. Anyways, pengguna Chrome, atau malah pencinta Chrome, rasanya akan tetap menikmati karya tersebut sebagai tutorial mekanik dari masa depan sebuah browser.

  4. kian says:

    yg komen diatasku…ckckc..panjang men
    mbok tulis ning blog sampeyan trus taro linknya…dohh

    eniwey thx infone…thx juga buat udey..

    dey..dey..*cuma mo manggil aza*

  5. sofyanr says:

    Sip… Sudah beberapa hari mencoba. Sekarang makai bergantian dengan Firefox. 80% FF: 20% Google Chrome. Sipp!!!

Berikan komentarmu...