Memanjat “Ondo” Sosial

*Ondo = tangga

Bukankah setiap orang ingin memanjat tangga sosial (terjemahan sembarangan dari “climbing up the social ladder)? Ingin menempatkan dirinya di posisi yang lebih tinggi (baca: baik) di tengah masyarakat. Contoh nya banyak, manusia bisa memanjat tangga ini dengan berbagai cara, mulai dari yang lazim seperti, sekolah S1 di universitas nasional ternama, S2 di luar negeri, S3 di luar.. (angkasa ?), kerja dengan gaji yang tinggi, sampai cara-cara yang lebih ekstrim seperti ikutan Pildacil, AFI, Idol dan “wannabe shows” lainnya.

Tanpa disadari, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita sangat peka terhadap posisi kita di tangga sosial ini. Saat bertemu orang baru di lingkungan kerja, misalnya, inilah beberapa pertanyaan standard:

– Sudah berapa lama kerja di sini mas? --> kalo anak baru, asik; kalo sudah senior, jaim.
– Dulu kuliah dimana, mbak?

Acara reunian angkatan:

– Kerja dimana sekarang? Gajinya oke gak?

Atau saat yudisium di kampus:

– Eh, kamu kalkulus dapet apa? --> kalo lebih rendah,
alhamdulillah, kalo lebih tinggi gondok

Bahkan saat sudah berkeluarga, sering ada yg nanya ke ibu saya:

– Putranya kuliah dimana, Bu? Atau sudah kerja?
– Sudah punya pacar belum? Atau dijodohin aja sama anak saya? --> True story! 😀

Yah… begitulah. Diakui atau tidak, kita selalu bercermin terhadap orang-orang di sekitar kita. Dan biasanya, seperti kata pepatah “sukete tonggo ngarep omah mesti luwih ijo” (the grass is always greener on the other side), apalagi kalau tetangga kita punya lapangan sepak bola, atau jualan rumput segar.

Masing-masing orang tentu memaknai secara berbeda-beda, ada yang jadi “panas” dan memanjat lebih tinggi, ada yang melihat kebawah, singunen dan duduk diam sejenak, ada juga yang melihat kebawah sambil manjat lebih tinggi.

Mana yang paling baik? Menurut saya, semuanya baik. Karena setiap orang pasti punya motivasi yang unik untuk memanjat. Mungkin ada yang ingin membahagiakan kedua orang tua, ada yang pengen kaya, ada yang pengen cepet nikah, dan sebagainya.

Gimana dengan teman-teman?

4 thoughts on “Memanjat “Ondo” Sosial

  1. teresa says:

    hue…he…he…lucu tenan, jadi penasaran, se-obese apa…
    hm, waktu di jogja, kalau di kantor pertanyaannya, baru dapat proyek apa? semakin banyak “dipercaya” kabarnya makin baik, tapi kadang-kadang beda-beda tipis antara dipercaya sama diperbudak… 🙁

    aku pengen sekolah lagi…ada yang mau nyeponsori? he…he…

  2. boku_baka says:

    Gimana dengan teman-teman?

    Gimana dengan saya??
    Saya nganggur nih! Postingan ini nyindir saya nih? Ngajak berantem nih?
    pokoknya hapus!!

    *becanda* :d

  3. Khodim & Iva Suryani says:

    Hi Loenpia .. bisa gak pasang banner iklan di sini? free atau bayar? Terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *